Superbank Resmi IPO: Galang Rp2,79 Triliun untuk Ekspansi Digital & Kredit UMKM

Cuaninsight – PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) akhirnya resmi mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (IDX) pada Rabu, 17 Desember 2025. Aksi korporasi tersebut bukan sekadar seremoni listing, melainkan penegasan langkah strategis Superbank untuk mengamankan struktur permodalan, memperkuat model bisnis digital-first, serta memperluas akses layanan keuangan modern bagi masyarakat Indonesia.

Superbank merupakan bank dengan layanan digital yang didukung oleh ekosistem raksasa: Grab, Emtek, Singtel, KakaoBank, dan GXS. Kehadiran para pemegang saham strategis ini memberikan pondasi kuat—baik dari sisi teknologi, jaringan pengguna, kredibilitas industri, hingga pengalaman pengembangan perbankan digital di Asia.

Lonjakan Harga pada Hari Perdana

Pada hari pertama perdagangan, saham SUPA menguat 24,41% ke level Rp790 per saham, naik Rp155 dari harga IPO sebesar Rp635 per saham. Data RTI menunjukkan harga pada pembukaan langsung diperdagangkan di level tertinggi dan terendah yang sama—Rp790—dengan 1.208 frekuensi transaksi dan volume 20.369 saham, menghasilkan nilai transaksi sekitar Rp1,6 miliar.

Lonjakan harga tersebut menjadi indikasi sentimen positif pasar terhadap prospek bisnis Superbank, terutama karena bank ini bergerak pada sektor digital finance yang terus meningkat permintaannya.

Menggalang Rp2,79 Triliun, Lepas 4,4 Miliar Saham

Dalam penawaran umum perdana, Superbank melepas 4,4 miliar saham baru, setara 13% modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Perseroan berhasil menghimpun dana Rp2,79 triliun, dana segar yang akan diarahkan ke dua agenda utama:

70% sebagai modal kerja untuk memperkuat penyaluran kredit—khususnya pada segmen underbanked, UMKM, dan ritel.

30% untuk belanja modal, mencakup pengembangan:

  • produk pendanaan & pembiayaan
  • sistem pembayaran digital
  • infrastruktur IT
  • operasional back-end
  • investasi pada AI, data analytics, serta cyber security.

Dalam pernyataannya, Presiden Direktur Superbank Tigor M. Siahaan menegaskan bahwa IPO membuka fase pertumbuhan baru:

“Dengan dukungan pemegang saham dan ekosistem digital yang kuat, kami semakin siap memperluas akses kredit, mempercepat inovasi, dan menghadirkan layanan finansial yang relevan bagi jutaan masyarakat Indonesia. Modal IPO memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang kami.”

Strategi Digital-First Berbasis Ekosistem

Transformasi Superbank menuju bank digital dimulai sejak 2024 melalui pendekatan digital-first yang memanfaatkan kekuatan ekosistem Grab dan OVO. Strategi ini menjawab masalah klasik perbankan—biaya akuisisi nasabah tinggi dan rendahnya literasi keuangan digital di segmen masyarakat umum.

Pada 2024, Superbank menjadi bank digital pertama yang mengizinkan pembukaan rekening langsung dari aplikasi Grab. Rekening tersebut dapat digunakan sebagai metode pembayaran tanpa harus mengunduh aplikasi baru. Kemudahan onboarding berbasis ekosistem terbukti mempercepat akuisisi pengguna.

Tahun 2025, inovasi dilanjutkan melalui:

  • OVO Nabung by Superbank – produk rek-wallet yang memungkinkan pengguna OVO menabung instan dengan bunga 5% per tahun.
  • Kartu Untung – tabungan gamifikasi hasil kolaborasi dengan KakaoBank, mengincar pengguna muda.

Pendekatan ini menggeser Superbank dari kompetisi perbankan tradisional menuju ekonomi kolaboratif digital, di mana layanan keuangan hadir di platform yang sudah digunakan masyarakat sehari-hari.

Target Kredit Segmen Underbanked

Segmen ritel, pekerja informal, dan UMKM mikro masih mengalami keterbatasan akses pembiayaan. Di sisi ini, Superbank menemukan celah pasar yang besar. Dengan peningkatan modal pasca-IPO, Superbank berambisi memperbesar portofolio kredit berbasis risk-tech, scoring data alternatif, serta integrasi transaksi dari Grab dan OVO.

Pendekatan ini memberi dua keuntungan:

data transaksi sebagai penilaian risiko

biaya perolehan nasabah lebih rendah

Model seperti ini sebelumnya sukses di Korea Selatan melalui KakaoBank—dan investor memperlakukan Superbank sebagai “KakaoBank versi Indonesia”.

Sinergi Strategis Ekosistem Digital

Ke depan, Superbank akan memperkuat kolaborasi antara:

Grab (mobilitas, mitra driver, merchant food)

OVO (dompet digital dan transaksi harian)

Emtek (media dan distribusi digital)

Singtel & GXS (teknologi perbankan regional)

KakaoBank (expertise bank digital Korea)

Sinergi lintas ekosistem tersebut mengurangi biaya marketing, mempercepat akuisisi nasabah, dan meningkatkan retensi transaksi. Sejak peluncuran aplikasi digital pada Juni 2024, Superbank mencatat:

5 juta nasabah dan rata-rata transaksi harian tumbuh 40% YoY (Q3 2025)

Angka ini menjadi sinyal bahwa Superbank tidak sekadar “bank digital baru”, melainkan pemain skala nasional dengan segmen pengguna real.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *