Saham SMGR Sudah Overbought, Waspadai Risiko Koreksi Jangka Pendek
Cuaninsight – Pergerakan saham emiten semen pelat merah kembali mencuri perhatian pasar. Di tengah tekanan industri akibat isu oversupply dan perang harga, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) justru mencatat reli impresif sejak awal 2026.
Pada penutupan perdagangan Senin (23/2/2026), harga saham SMGR berada di level Rp3.200 per saham, menguat 4,23% dibandingkan sesi sebelumnya dan melonjak 20,30% secara year to date (YTD). Kenaikan tajam ini memicu pertanyaan: apakah reli masih berlanjut, atau justru saatnya waspada koreksi?
Masuk Area Overbought, Risiko Koreksi Mengintai
Secara teknikal, sejumlah analis mulai mengingatkan potensi risiko jangka pendek. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai indikator teknikal menunjukkan kondisi jenuh beli (overbought).
Kondisi ini mengindikasikan bahwa ruang kenaikan dalam jangka pendek semakin terbatas. Biasanya, saham yang telah berada di area overbought berpotensi mengalami koreksi teknikal sebagai bagian dari konsolidasi harga.
Meski demikian, koreksi teknikal tidak selalu berarti perubahan tren jangka panjang. Investor jangka pendek perlu lebih disiplin dalam menentukan level take profit dan cut loss.
Undervalued, Tapi Industri Masih Oversupply
Di sisi fundamental, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai saham SMGR sebelumnya sempat “dihukum” terlalu dalam oleh pasar akibat kekhawatiran oversupply dan perang harga di industri semen domestik.
Saat ini, SMGR dinilai memasuki fase rerating teknikal dan bargain hunting. Secara valuasi, saham ini masih dianggap undervalued.
Namun, Wafi mengingatkan bahwa kondisi undervalued belum otomatis berarti industri semen telah sepenuhnya keluar dari tantangan struktural. Kapasitas produksi yang berlebih masih menjadi persoalan utama, terutama di tengah pertumbuhan permintaan yang relatif terbatas.
Sentimen Penggerak Saham SMGR di 2026
Reli saham SMGR tidak lepas dari sejumlah sentimen positif makroekonomi dan kebijakan pemerintah, antara lain:
- Potensi penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia
- Percepatan penyerapan anggaran infrastruktur
- Optimisme proyek strategis nasional seperti IKN Nusantara
Sebagai pemimpin pasar semen nasional, pertumbuhan penjualan SMGR umumnya sejalan atau sedikit di atas rata-rata industri. Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi) memproyeksikan pertumbuhan penjualan semen nasional sekitar 1%–2% pada 2026.
Dengan posisi dominan, SMGR diperkirakan mampu mencatat pertumbuhan penjualan sekitar 2%–3%, relatif lebih baik dibandingkan pemain lain.
Prospek Kinerja dan Strategi Jangka Panjang
Prospek SMGR ke depan ditopang oleh dominasi pasokan untuk proyek infrastruktur besar serta stabilitas harga batubara sebagai komponen biaya utama. Selain itu, pemulihan permintaan semen kantong di luar Pulau Jawa turut menjadi katalis tambahan.
Dari sisi korporasi, pembentukan holding dan integrasi BUMN melalui entitas investasi nasional dinilai membuka peluang:
- Efisiensi operasional
- Sinergi antar-BUMN
- Diversifikasi lini bisnis
Namun risiko tetap membayangi. Produsen semen tier kedua masih agresif melakukan predatory pricing untuk merebut pangsa pasar ritel. Di sisi lain, ekspor semen memang membantu menjaga utilisasi pabrik, tetapi margin relatif tipis akibat persaingan dengan produsen dari Vietnam dan China.
Karena itu, inovasi produk semen hijau dan peningkatan efisiensi energi menjadi strategi jangka panjang yang krusial. Peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif serta pengembangan produk turunan seperti beton precast dan ready mix juga menjadi fokus penting.
Strategi untuk Investor
Bagi investor jangka pendek, kondisi overbought menjadi sinyal untuk lebih berhati-hati. Koreksi teknikal wajar terjadi setelah kenaikan 20% dalam waktu relatif singkat.
Sementara bagi investor jangka menengah hingga panjang, valuasi yang masih menarik dapat menjadi peluang akumulasi bertahap, dengan catatan tetap memperhatikan risiko industri dan dinamika harga komoditas.
Kesimpulannya, saham SMGR saat ini berada di persimpangan antara momentum teknikal dan tantangan fundamental industri. Keputusan investasi sebaiknya mempertimbangkan profil risiko masing-masing serta perkembangan sentimen makro di 2026.

