Saham Murah Grup Salim (ICBP) Diprediksi Cuan Besar di 2026, Ini Alasannya
Cuaninsight – Emiten konsumer Grup Salim, terutama PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), kembali mencuri perhatian analis pasar modal. Setelah sempat kurang menjadi sorotan investor, saham ICBP kini dipandang memiliki potensi lonjakan harga yang signifikan di 2026—terutama karena valuasinya masih terbilang murah dibanding fundamental bisnis ke depannya.
Analis dari BRI Danareksa Sekuritas, Christy Halim dan Sabela Nur Amalina melihat adanya sinyal positif dalam sektor konsumer Indonesia yang diperkirakan berkembang stabil pada tahun ini. Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi dan dukungan kebijakan fiskal, saham-saham konsumer termasuk Grup Salim dipandang sebagai peluang investasi yang menarik untuk mengejar cuan.
Prospek Konsumer 2026: Sektor Masih Solid
Dalam riset terbarunya yang dikutip pada 13 Januari 2026, Christy dan Sabela memproyeksikan pertumbuhan pendapatan sektor konsumer sebesar 5,7% yoy pada 2026. Ini menjadi indikator penting bahwa permintaan barang-barang konsumsi di Indonesia tetap kuat—suatu kondisi yang dapat menjadi “angin segar” bagi produsen besar seperti ICBP maupun saingannya seperti PT Mayora Indah Tbk (MYOR).
Meningkatnya pendapatan konsumer diperkirakan datang dari dua sumber utama: pemulihan volume penjualan yang bertahap serta kenaikan average selling price (ASP) atau harga jual rata-rata yang moderat. Kombinasi kedua faktor ini memberikan ruang bagi emiten konsumer untuk menjaga margin meski dihadapkan pada tekanan biaya input.
Analis menilai perusahaan dengan pangsa pasar dominan—seperti ICBP dan MYOR—memiliki daya tawar yang kuat untuk meneruskan sebagian kenaikan biaya produksi ke harga jual, sehingga dampaknya terhadap margin tidak terlalu signifikan.
Soft Commodities Mulai Pulih, Jadi Pendorong Margin
Selain data permintaan domestik, ada pula sentimen positif dari sisi pasokan bahan baku. Beberapa komoditas penting seperti kakao, gandum, dan kopi robusta diprediksi menunjukkan perbaikan pada 2026. Fundamentally, basis harga yang tinggi di tahun sebelumnya dan perbaikan dinamika pasokan global turut membantu menstabilkan biaya produksi.
Menurut BRI Danareksa, situasi ini akan turut memperbaiki margin industri konsumer. Mereka memperkirakan gross profit margin (GPM) meningkat sekitar 60 basis poin, sedangkan margin operasional naik sekitar 50 basis poin. Perbaikan margin semacam ini biasanya mencerminkan manajemen biaya yang lebih efisien dan pricing power yang kuat di tengah permintaan yang tetap tangguh.
EPS Sektor Konsumer Diprediksi Tumbuh Kuat
Laporan riset juga memproyeksikan pertumbuhan laba per saham (EPS) sektor konsumer sekitar 8,6% pada 2026. Pertumbuhan ini didorong bukan hanya oleh perbaikan margin, tapi juga oleh perubahan kebijakan fiskal yang diprediksi lebih ekspansif dan fleksibel, serta potensi peningkatan konsumsi rumah tangga yang didukung kenaikan upah minimum.
Untuk tahun ini, kenaikan upah minimum diperkirakan mencapai rata-rata 5,7% yoy, sedikit lebih rendah dibanding tahun lalu (6,5%), namun tetap memberikan tambahan daya beli. Peningkatan daya beli ini menjadi salah satu faktor yang mendukung permintaan barang konsumsi secara umum.
Dengan kondisi ekonomi semacam ini, permintaan makanan siap saji, minuman, serta kebutuhan pokok diprediksi tetap bertahan kuat—dan ini tentu menjadi kabar baik buat ICBP dan emiten sejenis.

Momentum Penjualan Menjelang Akhir 2025
BRI Danareksa mencatat adanya sinyal perbaikan momentum penjualan menjelang tutup 2025, meskipun sebagian besar masih dipengaruhi faktor musiman, seperti lonjakan konsumsi jelang akhir tahun dan persiapan stok menjelang Idulfitri.
Performa sejumlah emiten konsumer menunjukkan tren positif. Misalnya, MYOR diperkirakan mencatat pertumbuhan penjualan mendekati 8% pada 2025, mencerminkan pertumbuhan tahunan yang solid meski basis perbandingan periode sebelumnya sudah tinggi. Di sisi lain, penjualan mi instan yang merupakan salah satu produk andalan ICBP diproyeksikan menunjukkan tren serupa.
Sementara itu, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) juga optimistis akan mencatat pertumbuhan penjualan di periode yang sama, meskipun tantangan biaya dan persaingan semakin ketat.
Rekomendasi Saham Konsumer 2026: Overweight
Dengan semua data positif di atas, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor konsumer dengan valuasi Price to Earnings (PE) 2026 sekitar 13,6 kali. Ini menunjukkan valuasi yang relatif wajar dan memberi ruang pertumbuhan harga saham nantinya.
Dari dalam sektor ini, ada sejumlah saham pilihan yang direkomendasikan untuk dikoleksi tahun 2026, terutama yang berasal dari Grup Salim dan beberapa “pemain besar” lain:
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) masih menjadi pilihan utama dengan rekomendasi Buy dan target harga Rp 11.500, yang berarti potensi kenaikan sekitar +44,2% dari harga saat riset.
Selain ICBP, saham MYOR juga direkomendasikan Buy dengan target Rp 2.700 (+30,4%), sementara PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) ditargetkan berada di Rp 9.400 (+40,2%). Tidak kalah menarik, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) juga mendapatkan rekomendasi positif dengan target Rp 3.200 (+23%).
Kesimpulan: Saham ICBP & Grup Salim Potensial Cuan di 2026
Meski selama ini saham ICBP tergolong kurang populer di kalangan investor ritel, tahun 2026 diprediksi menjadi tahun pembuktian. Dengan dukungan pertumbuhan konsumsi rumah tangga, stabilisasi biaya komoditas, serta prospek margin yang membaik, saham emiten konsumer terutama ICBP dipandang punya fundamental kuat untuk meraih kenaikan harga yang signifikan.
Belum lagi faktor dukungan kebijakan ekonomi makro dan peningkatan daya beli, yang sama-sama akan menjadi pendorong permintaan barang konsumsi—memberi ruang bagi saham-saham konsumer untuk bertumbuh dan mencetak cuan bagi investor jangka menengah hingga panjang. (visahut)

