Prabowo Pacu Proyek Mobil Nasional, BAIC Indonesia Ajukan Diri Jadi Mitra Strategis
Cuaninsight – Wacana mobil nasional kembali menguat setelah Presiden Prabowo Subianto menegaskan target ambisius pemerintah untuk menghadirkan mobil nasional dalam waktu tiga tahun. Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara Oktober lalu, Prabowo menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan alokasi dana dan lahan pabrik, serta menugaskan tim khusus untuk mempercepat realisasi program tersebut.
“Kita sudah menghasilkan jip buatan Indonesia. Saya sudah alokasikan dana dan lahan untuk pabrik-pabriknya. Sekarang tim sedang bekerja,” ujar Prabowo.
Pernyataan ini memicu dorongan besar terhadap industri otomotif nasional, sekaligus membuka ruang kolaborasi bagi produsen yang memiliki kesiapan produksi lokal.
BAIC Indonesia Masuk Radar: BJ40 Disebut Paling Siap
Salah satu produsen yang menyambut peluang ini adalah BAIC Indonesia. Perusahaan asal Tiongkok ini telah memperkuat keberadaannya melalui model SUV bergaya klasik, BAIC BJ40, yang kini dirakit secara lokal.

Melihat fleksibilitas platform dan kesiapan fasilitas, BAIC menegaskan minatnya untuk ikut serta dalam proyek mobil nasional.
“Tentu dengan senang hati kami ingin berpartisipasi. Apalagi BJ40 sudah perakitan lokal dan saya rasa memiliki keunikan untuk masyarakat Indonesia,” kata Dhani Yahya, COO BAIC Indonesia.
Menurutnya, platform BJ40 bisa menjadi fondasi kuat untuk mengembangkan kendaraan nasional yang dapat di-branding dengan merek lokal sesuai arahan pemerintah. Dengan arsitektur yang sangat fleksibel, BJ40 memungkinkan pengembangan berbagai varian sesuai kebutuhan pasar domestik.
TKDN 40% dan Target Menjadikan Indonesia Basis Produksi ASEAN
Salah satu keunggulan BAIC adalah posisinya yang sudah memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) hingga 40 persen. Langkah ini menjadi modal penting untuk mendukung visi pemerintah soal kemandirian industri otomotif nasional.
Tidak berhenti di situ, BAIC Indonesia menargetkan Indonesia sebagai production hub untuk kawasan Asia Tenggara. Dengan kapasitas produksi CKD (completely knocked down), unit rakitan Indonesia berpotensi diekspor ke negara-negara ASEAN.
Jika proyek mobil nasional menggandeng BAIC, langkah ini dapat mempercepat pencapaian ekosistem produksi lokal, sekaligus membuka peluang investasi lanjutan untuk pemasok komponen hingga manufaktur tier-2 dan tier-3.
Platform Tangguh, Dipakai Militer hingga Pemerintah
BAIC BJ40 tidak hanya populer sebagai SUV off-road, tetapi juga sudah digunakan di berbagai sektor operasional.
Dhani mengungkapkan, “BJ40 sudah dipakai militer dan beberapa lembaga resmi. Sebelum dijadikan rantis, mobil ini diuji dua bulan. Unit juga dipakai untuk mining, fleet pemerintah, hingga pengawalan.”
Kemampuan tersebut berasal dari struktur ladder frame, torsi besar, serta kemampuan off-road yang menjadi ciri khas BJ40. Fleksibilitas ini memungkinkan mobil dikembangkan menjadi kendaraan sipil, komersial, hingga kendaraan operasional lembaga negara.
Bagi pemerintah, platform serbaguna seperti ini memberi keuntungan:
- mudah dikonfigurasi,
- efisien dari sisi pengembangan,
- cepat untuk produksi massal,
- cocok untuk medan dan kebutuhan Indonesia.
Analisis: Peluang Besar bagi Industri Otomotif Domestik
Wacana mobil nasional di era Prabowo menunjukkan perubahan besar dalam strategi industri otomotif Indonesia. Jika benar terwujud, kolaborasi pemerintah dengan produsen seperti BAIC dapat memberikan beberapa dampak ekonomi:
1. Penguatan rantai pasok lokal
TKDN tinggi akan meningkatkan permintaan komponen lokal dan membuka peluang bagi UMKM komponen otomotif.
2. Transfer teknologi dan pengembangan SDM
Ketika pabrik-pabrik baru beroperasi, tenaga kerja Indonesia akan terlibat dalam proses desain, produksi, hingga R&D.
3. Potensi ekspor regional
Menjadikan Indonesia sebagai basis produksi ASEAN meningkatkan daya saing dan membuka pasar baru bagi industri dalam negeri.
4. Kemandirian industri dan positioning global
Mobil nasional akan memberi identitas industri otomotif Indonesia sebagai pemain, bukan hanya pasar.
Arah Selanjutnya
Walaupun masih berada pada tahap wacana dan persiapan, proyek mobil nasional ini bergerak cepat. Pemerintah sudah menutup celah absen produksi dengan kesiapan lahan dan pendanaan, sementara produsen seperti BAIC mulai menyodorkan platform dan rencana kolaborasi.
Jika eksekusinya tepat, proyek ini tidak hanya menghadirkan mobil nasional sebagai produk simbolik, tetapi juga sebagai sumber nilai ekonomi, lapangan kerja, dan kemandirian industri.
BAIC dengan BJ40 menjadi salah satu kandidat paling siap — namun perjalanan tiga tahun ke depan akan menentukan apakah mobil nasional benar-benar akan lahir dan berdaya saing.

