Permata Bank Kaji Pengembangan Produk Paylater untuk Perkuat Segmen Konsumer
Cuaninsight – PT Bank Permata Tbk (Permata Bank) mulai melirik pengembangan produk buy now pay later (BNPL) atau paylater sebagai bagian dari strategi memperkuat bisnis di segmen konsumer. Langkah ini sejalan dengan tren industri jasa keuangan yang semakin mengandalkan pembiayaan digital untuk mendorong transaksi ritel dan meningkatkan basis nasabah.
Division Head Consumer Lending Permata Bank, Haryanto, mengungkapkan bahwa rencana pengembangan paylater saat ini masih berada dalam tahap asesmen internal. Perseroan belum dapat mengumumkan detail produk tersebut karena masih menunggu hasil kajian menyeluruh, termasuk terkait kesiapan sistem, manajemen risiko, serta arah kebijakan regulator.
“Kalau itu (paylater) sedang kami asesmen, termasuk juga kebijakan terbaru dari regulator terkait paylater, itu kami sedang melakukan asesmen,” ujar Haryanto, dikutip dari Antara.
Menunggu Kepastian Regulasi OJK
Selain pertimbangan internal, Permata Bank juga mencermati perkembangan regulasi terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Belum lama ini, OJK menerbitkan Peraturan OJK (POJK) Nomor 32 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Buy Now Pay Later.
Dalam aturan tersebut, penyelenggaraan BNPL hanya boleh dilakukan oleh bank umum dan perusahaan pembiayaan. Bank umum dapat langsung mengembangkan layanan paylater dengan mengacu pada regulasi perbankan yang berlaku, sedangkan perusahaan pembiayaan wajib memperoleh persetujuan OJK terlebih dahulu.
Regulasi ini memberikan kepastian hukum sekaligus memperketat pengawasan terhadap industri BNPL yang sebelumnya didominasi oleh perusahaan teknologi finansial (fintech). Bagi bank seperti Permata, aturan tersebut membuka peluang lebih besar untuk masuk ke pasar paylater secara lebih terstruktur dan aman.
Prospek Bisnis Konsumer Dinilai Membaik
Haryanto menilai prospek segmen konsumer pada tahun ini akan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Perbaikan permintaan dan meningkatnya aktivitas ekonomi nasabah menjadi faktor utama yang mendorong optimisme tersebut.
Beberapa produk kredit konsumer yang diperkirakan mencatat pertumbuhan positif meliputi kartu kredit, personal loan, kredit pemilikan rumah (KPR), serta kredit kendaraan bermotor. Produk-produk ini dinilai masih menjadi tulang punggung pendapatan di sektor ritel perbankan.
Pengembangan paylater sendiri dipandang dapat melengkapi portofolio pembiayaan konsumer, terutama untuk transaksi bernilai kecil hingga menengah yang membutuhkan proses cepat dan fleksibel.
Fokus Ganda: Pengusaha dan Konsumer Ritel
Dalam strategi bisnisnya, Permata Bank membagi pendekatan berdasarkan segmen nasabah. Untuk segmen pengusaha atau UMKM/SME, bank fokus menangkap transaksi usaha melalui layanan cash management, kredit modal kerja, serta solusi perbankan terintegrasi.
Sementara itu, pada segmen konsumer ritel, Permata Bank tidak hanya menyasar sektor pariwisata, tetapi juga industri otomotif. Bank ini bahkan menjadi sponsor utama Gaikindo Jakarta Auto Week sebagai bagian dari komitmen mendukung pertumbuhan penjualan kendaraan nasional.
Jika produk paylater resmi diluncurkan, besar kemungkinan layanan tersebut akan diarahkan untuk memperkuat transaksi ritel, baik di sektor gaya hidup, e-commerce, hingga pembelian kendaraan dan kebutuhan konsumtif lainnya.
Daya Beli Nasabah Masih Terjaga
Di tengah tantangan ekonomi global, Permata Bank menilai daya beli nasabah relatif stabil. Hal ini karena mayoritas basis nasabah berada di segmen menengah ke atas, sehingga dampak perlambatan ekonomi terhadap kemampuan membayar kredit tidak terlalu signifikan.
Kondisi tersebut tercermin pada kualitas aset perseroan yang masih terjaga. Hingga September 2025, total penyaluran kredit Permata Bank tumbuh 5,4 persen secara tahunan (year on year) menjadi Rp158,9 triliun.
Rasio kredit bermasalah (NPL gross) tercatat di level 2,1 persen, sementara loan at risk (LAR) berada di angka 7,0 persen, membaik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Paylater Jadi Peluang Baru Perbankan
Masuknya Permata Bank ke dalam radar bisnis paylater menandakan bahwa layanan BNPL tidak lagi hanya didominasi oleh fintech, tetapi mulai menjadi arena persaingan serius bagi perbankan nasional.
Dengan basis nasabah yang kuat, infrastruktur teknologi yang matang, serta regulasi yang semakin jelas, bank memiliki peluang besar untuk menghadirkan paylater yang lebih aman dan berkelanjutan.
Meski masih dalam tahap kajian, langkah Permata Bank ini menjadi sinyal bahwa industri perbankan Indonesia siap memasuki fase baru pembiayaan digital yang lebih kompetitif dan terintegrasi.

