Pasar Kopi Vietnam Melemah, Harga Robusta Indonesia Meroket di Akhir 2025
Cuaninsight – Menjelang penutupan tahun 2025, dinamika pasar kopi Asia kembali menarik perhatian para pelaku industri. Vietnam, sebagai salah satu produsen dan eksportir kopi robusta terbesar di dunia, mencatat pelemahan harga yang cukup signifikan. Sebaliknya, Indonesia justru menikmati lonjakan harga robusta Sumatra yang melesat ke level premium. Kondisi ini menciptakan kontras menarik antara dua raksasa produsen kopi di kawasan Asia Tenggara.
Pasar Kopi Vietnam Tertekan Pasokan yang Seret
Pada Kamis (27/11/2025), pasar kopi Vietnam tercatat melemah karena pasokan yang terbatas. Hujan lebat yang mengguyur wilayah Dataran Tinggi Tengah—sentra penghasil kopi terbesar di Vietnam—membuat panen cherry tertunda. Kondisi ini tidak hanya menghambat pemetikan, tetapi juga memperlambat proses pengolahan di tingkat petani dan fasilitas pengeringan.
Harga biji kopi di tingkat petani turun menjadi 110.500–111.500 dong per kilogram (sekitar US$ 4,19–4,23). Angka ini lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya yang berada di kisaran 111.500–113.500 dong per kilogram. Meski koreksinya tidak terlalu tajam, tren penurunan ini mengirimkan sinyal bahwa pasar sedang menahan laju akibat ketidakpastian pasokan.
Di pasar berjangka, kontrak robusta untuk pengiriman Maret juga terkoreksi. Harga melemah hingga US$ 37 atau sekitar 1% menjadi US$ 4.377 per ton metrik pada Rabu. Secara global, harga kopi bahkan telah anjlok US$ 129 sejak awal pekan.
Salah satu faktor eksternal yang turut menekan harga adalah kebijakan pemerintahan Trump yang menghapus tarif 40% untuk impor kopi Brasil. Keputusan ini memicu banjir pasokan kopi Brasil ke pasar internasional, sehingga memberi tekanan tambahan bagi produsen lain, termasuk Vietnam.
Kekhawatiran Cuaca Masih Membayangi
Meski harga turun, para pedagang Vietnam menilai koreksi tidak lebih dalam karena pasar masih diliputi kekhawatiran terhadap cuaca. Panen yang terlambat serta potensi hujan tambahan membuat harga relatif tertahan.
Otoritas Vietnam memperingatkan adanya dampak dari Badai Koto yang diperkirakan melanda wilayah tengah negara itu awal pekan berikutnya. Meski badai diproyeksikan tidak langsung menghantam area perkebunan kopi, hujan tambahannya bisa kembali mengganggu proses pengeringan dan distribusi.
Salah satu pedagang lokal menyebut proses pemetikan cherry kini mulai bergerak lebih cepat. Namun ancaman cuaca membuat pasar berhati-hati, terutama dalam mengambil posisi harga untuk kontrak jangka menengah.
Pada pasar ekspor, robusta grade 2 dengan kadar black & broken 5% ditawarkan dengan diskon US$ 100–130 per ton untuk kontrak LIFFE Maret. Penawaran diskon ini menunjukkan bahwa eksportir masih berupaya menarik pembeli di tengah kondisi pasokan yang belum stabil.

Robusta Sumatra Melonjak, Indonesia Menikmati Momentum
Berbeda dengan Vietnam, pasar kopi Indonesia menunjukkan performa lebih cerah. Robusta Sumatra—yang dikenal memiliki karakter bold dan tebal—justru mengalami kenaikan harga signifikan.
Pedagang kini menawarkan harga premium sebesar US$ 130 terhadap kontrak Desember. Jumlah ini melonjak jauh dibanding pekan sebelumnya yang masih mencatat diskon US$ 70. Perbedaan hampir US$ 200 dalam hitungan minggu menunjukkan betapa cepatnya perubahan sentimen pasar terhadap kopi Indonesia.
Tidak hanya itu, pedagang lain melaporkan premium tambahan US$ 10 terhadap kontrak Maret—berbanding terbalik dengan posisi pekan lalu, ketika robusta Sumatra dijual dengan diskon US$ 50 untuk kontrak Januari.
Kenaikan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor:
- Permintaan kuat dari pasar Eropa, yang mencari alternatif stabil di tengah ketidakpastian Vietnam.
- Kualitas panen Sumatra yang baik, sehingga layak dihargai premium.
- Pergeseran pasokan global karena perubahan tarif impor Amerika Serikat terhadap Brasil.
Momentum ini menjadi angin segar bagi petani Indonesia, terutama di Sumatra Selatan dan Lampung, yang selama beberapa bulan terakhir menghadapi cuaca tidak menentu.
Penutup: Pertarungan Dua Raksasa Kopi Asia
Akhir 2025 menghadirkan dinamika menarik di pasar kopi Asia. Di satu sisi, Vietnam menghadapi tantangan cuaca dan tekanan pasar internasional. Di sisi lain, Indonesia mampu memanfaatkan momentum untuk menempatkan robusta Sumatra pada posisi premium.
Ke depan, fluktuasi harga masih mungkin terjadi, terutama jika dampak badai Koto memengaruhi panen lebih jauh. Namun untuk saat ini, Indonesia tengah menikmati posisi menguntungkan di panggung kopi global.

