Modal Asing Serbu SRBI: Indonesia Kantongi Rp 12,70 Triliun dalam Sepekan
Cuaninsight – Pasar keuangan Indonesia kembali mencatatkan sinyal positif. Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa aliran modal asing (capital inflow) mencapai Rp 12,70 triliun hanya dalam periode 24–27 November 2025. Lonjakan dana ini menunjukkan meningkatnya minat investor global terhadap aset-aset rupiah, terutama Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mendominasi pembelian.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengungkapkan bahwa investor nonresiden melakukan aksi beli bersih (net buy) di tiga instrumen utama: pasar saham, Surat Berharga Negara (SBN), dan SRBI.
SRBI Menyumbang Arus Terbesar
Dari total capital inflow Rp 12,70 triliun, komposisinya adalah:
Rp 2,01 triliun beli neto di pasar saham
Rp 0,41 triliun beli neto di pasar SBN
Rp 10,27 triliun beli neto di SRBI
Artinya, lebih dari 80% aliran modal asing mingguan masuk melalui SRBI. Instrumen ini memang dirancang untuk memperkuat likuiditas pasar rupiah sekaligus menjadi alternatif investasi jangka pendek yang menarik bagi investor asing karena imbal hasilnya relatif kompetitif.
Tingginya minat terhadap SRBI juga mengindikasikan bahwa investor melihat stabilitas makroekonomi Indonesia masih terjaga, terutama jelang akhir tahun.
Premi Risiko Indonesia Turun
Kenaikan capital inflow turut berkontribusi pada turunnya premi risiko Indonesia di mata pasar global. Hal ini tercermin dari pergerakan Credit Default Swap (CDS) 5 tahun yang:
Berada di 72,54 bps per 27 November 2025
Turun dari 76,69 bps pada 21 November 2025
Penurunan CDS menandakan persepsi risiko investasi Indonesia membaik. Biasanya, CDS yang turun berkaitan dengan meningkatnya keyakinan investor pada stabilitas fiskal dan kemampuan negara membayar utang.
Namun Secara Year-to-Date, Investor Masih Jual Neto
Meski pekan terakhir mencatat aliran modal masuk yang kuat, secara kumulatif sepanjang tahun hingga 27 November 2025 posisi investor asing masih berada di zona jual neto:
Rp 26,41 triliun jual neto di pasar saham
Rp 3,30 triliun jual neto di pasar SBN
Rp 145,26 triliun jual neto di SRBI
Angka ini menegaskan bahwa sentimen investor asing selama 2025 masih berhati-hati. Fluktuasi global seperti perubahan suku bunga The Fed, geopolitik, maupun volatilitas komoditas masih memengaruhi arah arus modal ke emerging markets, termasuk Indonesia.
Capital inflow mingguan yang besar memang menjadi sinyal positif, namun belum cukup untuk mengimbangi tren jual neto sepanjang tahun.
BI Siapkan Strategi untuk Jaga Stabilitas
Denny menegaskan bahwa Bank Indonesia akan memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk memastikan ketahanan eksternal tetap terjaga. Selain itu, BI akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan—mulai dari stabilisasi nilai tukar, penguatan operasi moneter, hingga percepatan pendalaman pasar keuangan.
Kebijakan ini diharapkan mampu menarik lebih banyak aliran modal masuk dan menjaga stabilitas ekonomi menghadapi ketidakpastian global.
Kesimpulan
Dalam satu minggu terakhir, Indonesia berhasil membukukan capital inflow Rp 12,70 triliun, didorong terutama oleh tingginya permintaan investor asing terhadap SRBI. Peningkatan ini juga membantu menurunkan premi risiko Indonesia.
Namun secara year-to-date, investor asing masih mencatatkan penjualan bersih yang cukup besar di seluruh instrumen utama. Ini menunjukkan bahwa meskipun sentimen jangka pendek membaik, investor global masih cenderung berhati-hati sepanjang 2025.

