Kurs Rupiah Melemah, The Fed dan Proyeksi BI Jadi Sorotan
Cuaninsight – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada penutupan perdagangan Rabu (12/11/2025). Berdasarkan data pasar, rupiah ditutup turun 30 poin ke level Rp16.724 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat melemah hingga 35 poin dari penutupan kemarin di posisi Rp16.694.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, mencatat bahwa pelemahan ini mencerminkan tekanan eksternal yang masih kuat, terutama dari kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan ketidakpastian arah ekonomi global.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 30 poin di level Rp16.724. Untuk perdagangan besok, kami memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di rentang Rp16.720–Rp16.760 per dolar AS,” kata Ibrahim.
Ketidakpastian The Fed Tekan Sentimen Global
Pelemahan rupiah kali ini tak lepas dari sentimen negatif di pasar keuangan global. Investor masih ragu terhadap rencana Federal Reserve untuk memangkas suku bunga lebih lanjut pada akhir tahun.
Kondisi ini membuat dolar AS menguat di pasar Asia karena dianggap sebagai aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian. Bahkan, harga emas yang biasanya menjadi aset lindung nilai ikut tertekan akibat penguatan dolar.
Selain itu, pasar juga tengah mencermati pemeriksaan Mahkamah Agung AS terkait kebijakan tarif perdagangan Presiden Donald Trump. Meski keputusan belum akan keluar dalam waktu dekat, isu tersebut tetap mempengaruhi arah pergerakan mata uang global.
Politik AS Ikut Berpengaruh
Selain faktor moneter, situasi politik di Amerika Serikat juga menjadi sorotan pasar. DPR AS dijadwalkan menggelar pemungutan suara untuk mengakhiri penutupan sebagian kegiatan pemerintah (government shutdown) yang sudah berlangsung cukup lama.
RUU yang telah disetujui oleh Senat tersebut akan dibawa ke DPR untuk mendapat persetujuan akhir. Setelah disetujui, RUU itu akan diserahkan kepada Presiden Trump untuk ditandatangani.
“Berakhirnya penutupan pemerintah akan membuka kembali data ekonomi resmi, sehingga pasar bisa mendapatkan arah yang lebih jelas terkait kondisi ekonomi AS,” jelas Ibrahim.
Selain itu, pernyataan beberapa pejabat The Fed juga menjadi perhatian pasar. Hari ini, sejumlah pejabat seperti John Williams, Christopher Waller, Raphael Bostic, hingga Susan Collins dijadwalkan memberikan pidato di forum terpisah. Pernyataan mereka dinilai bisa memberikan petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan suku bunga selanjutnya.
Pandangan Dalam Negeri: Proyeksi Ekonomi Masih Realistis
Dari dalam negeri, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh revisi proyeksi ekonomi nasional oleh Bank Indonesia (BI). BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 hanya akan mencapai 5,33%, sedikit di bawah target pemerintah dan DPR yang dipatok sebesar 5,4%.
“Target pemerintah masih realistis, tetapi sangat bergantung pada kecepatan realisasi belanja fiskal dan efektivitas stimulus ekonomi ke depan,” terang Ibrahim.
Bank Indonesia juga menilai masih ada ruang untuk penurunan suku bunga dan ekspansi likuiditas moneter guna menjaga daya dorong ekonomi domestik. Namun, faktor eksternal seperti ketidakpastian global dan harga komoditas masih menjadi tantangan besar.
Sementara itu, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) justru memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih rendah lagi, yakni hanya 4,9% pada 2026. Angka ini mengindikasikan adanya kekhawatiran atas perlambatan ekonomi global yang bisa berdampak pada permintaan ekspor Indonesia.
Tantangan Ekonomi Global Masih Bayangi Rupiah
Kombinasi antara ketidakpastian global dan faktor domestik membuat rupiah rentan terhadap fluktuasi jangka pendek. Penguatan dolar AS yang berkelanjutan, prospek suku bunga tinggi, serta penurunan harga komoditas ekspor utama Indonesia bisa menjadi tekanan tambahan.
Namun di sisi lain, investor asing masih memandang fundamental ekonomi Indonesia cukup solid, dengan cadangan devisa yang stabil dan defisit fiskal yang terkendali. Faktor-faktor ini diharapkan bisa menahan pelemahan rupiah agar tidak terlalu dalam.
Proyeksi Pergerakan Rupiah Selanjutnya
Untuk perdagangan Kamis (13/11/2025), Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.720–Rp16.760 per dolar AS, dengan potensi pelemahan lanjutan jika dolar masih dominan di pasar Asia.
Konsolidasi akan sangat bergantung pada arah kebijakan The Fed dan data ekonomi AS yang akan dirilis setelah berakhirnya government shutdown. Jika data inflasi dan tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan, peluang pemangkasan suku bunga akan meningkat — dan hal ini bisa membantu menstabilkan rupiah kembali.
Rupiah kembali ditutup melemah ke Rp16.724 per dolar AS seiring tekanan eksternal dari kebijakan The Fed, ketegangan politik di AS, serta proyeksi ekonomi domestik yang direvisi. Meski pelemahan masih dalam batas wajar, investor diharapkan tetap waspada terhadap volatilitas yang tinggi menjelang akhir tahun.

