Kisah Marina Budiman, Mogul Teknologi DCI Indonesia yang Masuk Top 10 Forbes
Cuaninsight – Nama Marina Budiman menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam ekosistem digital Indonesia. Ia bukan hanya dikenal sebagai Presiden Komisaris PT DCI Indonesia Tbk (DCII), melainkan juga sebagai salah satu pionir penting industri data center Tanah Air. Dedikasinya selama puluhan tahun telah mengangkatnya menjadi miliarder teknologi dan bahkan menyandang status perempuan terkaya di Indonesia versi Forbes.
Di tengah dominasi taipan laki-laki dalam daftar orang terkaya Indonesia, kehadiran Marina menjadi fenomena tersendiri. Forbes mencatat kekayaannya sempat menembus US$9 miliar pada Oktober 2025 sebelum bergerak pada kisaran US$8,28 miliar pada November 2025. Angka yang tetap menempatkannya di posisi 10 besar orang terkaya Indonesia.
Kisah Marina adalah potret perjalanan panjang, kombinasi visi, konsistensi, dan kemampuan membaca masa depan industri digital Indonesia.
Awal Karier: Dari Dunia Perbankan Menuju Teknologi
Lahir dengan ketertarikan besar pada ekonomi, Marina menempuh pendidikan Sarjana Finance & Economy di University of Toronto, Kanada, dan lulus pada 1985. Tahun yang sama, ia memulai karier profesionalnya sebagai Account Officer di Bank Bali.
Di Bank Bali inilah ia bertemu dengan sosok yang kelak menjadi partner bisnis strategis sepanjang kariernya: Otto Toto Sugiri. Pertemuan tersebut menjadi titik awal jaringan profesional yang sangat berpengaruh bagi masa depan industri digital Indonesia.
Tertarik pada perkembangan teknologi yang mulai tumbuh pesat di akhir 1980–an, Marina kemudian beralih ke sektor IT. Ia bergabung dengan PT Sigma Cipta Caraka pada 1989, salah satu perusahaan teknologi paling progresif saat itu. Di sana, ia memegang berbagai posisi penting:
Product Manager,
Chief Financial Officer (2000–2008),
Sales and Delivery Director (2008–2010).
Pengalamannya di Sigma memberi fondasi kuat tentang teknologi informasi, manajemen, dan pembentukan ekosistem digital.
Mendirikan Indonet, ISP Komersial Pertama Indonesia
Langkah visioner Marina semakin terlihat ketika pada tahun 1994 ia ikut mendirikan Indonet, penyedia layanan internet komersial pertama di Indonesia. Indonet menjadi tonggak penting dalam sejarah internet Indonesia, membuka akses internet yang lebih luas ke publik dan industri.
Indonet terus berkembang sebelum para pendirinya, termasuk Marina, menjual saham mereka pada 2023. Namun kontribusinya terhadap fondasi awal internet Indonesia tetap dikenang sebagai lompatan besar pada masanya.
Membangun DCI Indonesia: Pondasi Utama Ekonomi Digital RI
Puncak karier Marina terjadi ketika ia bersama Otto Toto Sugiri dan Han Arming Hanafia mendirikan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) pada tahun 2011. DCI menawarkan layanan pusat data berstandar internasional, dan bahkan menjadi Tier IV pertama di Asia Tenggara, tingkat keandalan tertinggi di dunia data center.

Peran DCI sangat krusial bagi perekonomian digital Indonesia. Perusahaan ini menopang berbagai sektor seperti:
perusahaan teknologi,
fintech,
e-commerce,
perbankan,
startup digital skala besar.
DCI bukan hanya menyediakan infrastruktur, tetapi juga stabilitas yang menjadi nyawa bagi aplikasi dan layanan yang digunakan jutaan orang.
Dengan semakin pesatnya digitalisasi, permintaan layanan data center meroket. Hal ini membuat DCII menjadi salah satu saham teknologi paling diperhatikan di Bursa Efek Indonesia.
Saham DCII Melonjak, Kekayaan Marina Ikut Meroket
Marina resmi menjabat sebagai Direktur DCII pada 2012, kemudian naik menjadi Presiden Komisaris sejak 2016. Perannya yang strategis membuat namanya identik dengan pertumbuhan DCII.
Lonjakan harga saham DCII yang mencapai titik spektakuler pada 2021 menjadi pemantik utama kekayaan Marina. Fenomena itu terulang pada Juli 2025 saat saham DCII kembali melejit 20% dalam dua hari berturut-turut, menyentuh batas auto reject atas (ARA). Kenaikan ini menambah kekayaan Marina hingga US$1,2 miliar hanya dalam hitungan minggu.
Tidak mengherankan jika ia dijuluki sebagai “Ratu Data Indonesia”, mengingat pengaruhnya dalam membangun, mengembangkan, dan mempertahankan standar tinggi industri pusat data di Tanah Air.
Fluktuasi Kekayaan, Namun Status Tetap Solid
Nilai kekayaan Marina memang sempat berfluktuasi mengikuti volatilitas saham DCII. Namun posisinya di jajaran miliarder Indonesia tetap kokoh. Per November 2025, Forbes menempatkannya sebagai orang terkaya ke-7 di Indonesia dengan harta lebih dari Rp117 triliun.
Faktor yang membuat Marina berbeda adalah sumber kekayaannya: bukan dari komoditas, properti, atau perbankan seperti banyak taipan Indonesia lainnya, tetapi dari teknologi dan infrastruktur digital. Ini membuatnya menjadi simbol perkembangan industri baru yang menjadi tulang punggung ekonomi masa depan.
Simbol Kebangkitan Perempuan di Dunia Teknologi
Kisah Marina Budiman menjadi inspirasi bagi banyak profesional muda, khususnya perempuan, bahwa industri teknologi bukan lagi ruang eksklusif kaum laki-laki. Kontribusinya menjadi bukti bahwa kepemimpinan perempuan mampu menggerakkan industri strategis dan berskala besar.
Dalam dunia bisnis yang kompetitif, Marina dikenal rendah hati, pendiam, dan jarang tampil di publik. Namun dampak dari keputusan dan strateginya sangat besar bagi Indonesia.

