Ketua OJK Mahendra Siregar Mundur, Ini Respons Pasar dan Sinyal ke Investor

Cuaninsight – Pasar keuangan nasional kembali dihadapkan pada dinamika besar setelah Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, resmi mengundurkan diri dari jabatannya. Keputusan ini sontak memicu beragam respons pelaku pasar, mulai dari investor institusi hingga analis kebijakan publik, yang menilai langkah tersebut membawa pesan kuat terkait kondisi tata kelola sektor keuangan Indonesia.

Pengunduran diri Mahendra tidak berdiri sendiri. Ia dilakukan bersamaan dengan mundurnya Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (KE PMDK) Inarno Djajadi, serta Deputi Komisioner Pengawas Emiten dan Transaksi Efek (DKTK). Paket pengunduran diri pejabat kunci ini membuat pasar membaca adanya tekanan serius di level regulator.

Ekonom: Sinyal Kepercayaan Pasar Sedang Tertekan

Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai rangkaian pengunduran diri ini sebagai sinyal kemunduran kepercayaan keuangan Indonesia. Menurutnya, pasar tidak semata bereaksi pada penurunan indeks atau volatilitas jangka pendek, melainkan pada pesan implisit yang ditangkap investor.

Ia menekankan bahwa pasar keuangan bekerja berbasis persepsi dan ekspektasi. Ketika figur sentral dalam pengawasan pasar modal memilih mundur, pelaku pasar cenderung membaca adanya gangguan serius pada kredibilitas tata kelola dan kapasitas respons institusi.

“Investor tidak menunggu kesimpulan resmi. Mereka mengurangi paparan lebih dulu. Dalam situasi seperti ini, pernyataan bahwa kegiatan tetap berjalan sering kalah kuat dibanding sinyal tanggung jawab moral yang diikuti pengunduran diri,” ujarnya.

Dari Keraguan Kecil ke Perilaku Defensif

Achmad menjelaskan bahwa krisis kepercayaan memiliki pola yang khas. Awalnya muncul keraguan kecil, lalu berkembang menjadi kehati-hatian berlebihan, dan akhirnya berubah menjadi perilaku defensif investor.

Ketika transparansi kepemilikan saham dianggap kurang memadai, maka pembentukan harga di pasar juga ikut dipertanyakan. Jika harga tidak diyakini terbentuk secara wajar, maka keputusan investasi bergeser dari perhitungan rasional menuju sikap menghindari risiko secara ekstrem.

Dalam kondisi seperti ini, pasar cenderung lebih sensitif terhadap isu tata kelola dibandingkan fluktuasi kinerja emiten semata.

Reformasi Transparansi Jadi Kunci Pemulihan

Menurut Achmad, kepercayaan pasar hanya bisa pulih jika regulator dan pemerintah menghadirkan perubahan aturan main yang konsisten dan dapat diverifikasi. Fokus utama perlu diarahkan pada:

  • Keterbukaan data kepemilikan saham
  • Likuiditas pasar yang sehat
  • Penegakan pengawasan terhadap transaksi tidak wajar
  • Integritas dalam pembentukan harga

Ia menilai pasar masih bisa memaafkan volatilitas, tetapi sulit memaafkan kecurigaan bahwa harga terbentuk secara tidak fair. Karena itu, transisi kepemimpinan di OJK harus berlangsung cepat dan kredibel, bukan sekadar administratif.

OJK Tegaskan Stabilitas Tetap Terjaga

Menanggapi pengunduran diri tersebut, OJK menegaskan bahwa proses ini telah disampaikan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, termasuk UU Nomor 21 Tahun 2011 tentang OJK dan UU Nomor 4 Tahun 2023 tentang P2SK.

Mahendra Siregar menyatakan bahwa pengunduran dirinya merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk mendukung langkah-langkah pemulihan yang dibutuhkan sektor keuangan.

Sementara itu, Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK, M. Ismail Riyadi, memastikan bahwa pengunduran diri ini tidak mengganggu fungsi pengawasan dan stabilitas sistem keuangan nasional. Tugas dan kewenangan pejabat yang mundur akan dijalankan sementara sesuai mekanisme tata kelola yang berlaku.

Implikasi bagi Investor dan Pasar Modal

Bagi investor, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa stabilitas pasar tidak hanya ditentukan oleh kinerja emiten, tetapi juga oleh kepercayaan terhadap regulator. Dalam jangka pendek, pasar berpotensi bergerak volatil seiring pelaku pasar menunggu kejelasan arah kebijakan dan kepemimpinan OJK ke depan.

Namun dalam jangka panjang, momen ini bisa menjadi titik balik apabila diikuti reformasi nyata, terutama dalam penguatan transparansi dan integritas pasar modal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *