Kejar MSCI atau Mandek? Saham Konglomerasi Masuki Fase Ujian di 2026
Cuaninsight – Saham-saham konglomerasi yang selama dua tahun terakhir menjadi motor reli Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan masih mempertahankan daya tariknya pada 2026. Namun, dominasi tersebut tidak lagi bersifat menyeluruh. Pelaku pasar dan analis sepakat bahwa era dorongan “asal konglomerasi pasti naik” mulai memasuki babak baru yang jauh lebih selektif.
Pandangan itu disampaikan Analis Sinarmas Sekuritas, Isfhan Helmy, yang menilai bahwa kondisi pasar saham domestik perlahan mendekati fase euforia. Indikasinya terlihat jelas dari fenomena saham-saham IPO yang hampir selalu melonjak agresif sesaat setelah mencatatkan saham perdana. Sentimen “apa pun yang IPO pasti laku” dinilainya sebagai tanda awal pembentukan bubble.
Menurut Isfhan, tren panas ini belum akan berakhir, bahkan masih berpotensi berlanjut pada 2026. Namun, karena pasar bergerak semakin selektif, hanya saham yang memiliki narasi, katalis, dan fundamental kuat yang akan terus mendapat aliran dana besar.
Kejar MSCI, Konglomerasi Masih Punya Tenaga
Dalam konteks saham konglomerasi, Isfhan menyoroti emiten-emiten yang sedang mengejar kelayakan masuk ke dalam indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). Emiten yang targetnya realistis dianggap masih punya ruang reli, terutama mereka yang memiliki struktur free float memadai serta kapitalisasi pasar yang mendekati ambang batas masuk indeks.
Beberapa contoh yang disebut masuk radar pasar antara lain:
- PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI)
- PT Darma Henwa Tbk (DEWA)
- PT Petrosea Tbk (PTRO)
Ketiga emiten ini dianggap memenuhi karakteristik penting: kapitalisasi yang terus melebar dan struktur kepemilikan publik yang tidak terkunci. Faktor tersebut memberi mereka peluang untuk didorong fund manager yang membutuhkan portofolio MSCI-ready.
Bagi investor, sentimen MSCI ini penting. Masuk ke dalam indeks global akan meningkatkan permintaan saham dari institusi internasional, memicu aliran dana pasif, dan menjaga likuiditas tinggi.
Namun, Isfhan mengingatkan bahwa tidak semua konglomerasi bisa mengandalkan narasi MSCI sebagai mesin pertumbuhan harga. Ada emiten yang masih memerlukan kenaikan harga ekstrem—bahkan 200 hingga 300 persen—agar kapitalisasi free float-nya layak memenuhi syarat indeks.
Pertanyaannya: apakah pasar akan mendorong kenaikan setinggi itu? Menurut Isfhan, jawabannya belum tentu. Ketika valuasi saham bergerak irasional, pasar akan mencari katalis baru di sektor lain.
Risiko Baru: Aturan MSCI Bisa Berubah
Selain tantangan valuasi, saham konglomerasi juga menghadapi risiko perubahan metodologi MSCI. Ada sinyal bahwa MSCI akan mengecualikan kepemilikan korporasi tertentu dari hitungan free float.
Jika aturan ini diterapkan, maka kapitalisasi pasar free float sejumlah emiten bisa menyusut hingga sekitar 5 persen. Kepemilikan dari entitas berbentuk PT, perusahaan asing, atau kepemilikan korporasi di luar kategori asset manager dan asuransi berpotensi tidak lagi diperhitungkan sebagai floating share.
Implikasinya besar:
- sejumlah emiten dapat jatuh dari persyaratan MSCI,
- narasi “menuju MSCI” kehilangan daya tarik,
- pasar menjadi lebih selektif dalam memburu saham konglomerasi.
Dalam sebuah pasar yang sedang memanas, teks regulasi dapat menggeser arah aliran modal. Ini yang menurut Isfhan akan membatasi reli berlebihan di kalangan konglomerasi yang selama ini hanya mengandalkan sugesti indeks tanpa fundamental memadai.
Rotasi Sektor 2026: Mengalir ke Mana?
Isfhan melihat bahwa 2026 kemungkinan menjadi tahunnya rotasi internal sektor. Bukan rotasi global, karena arus dana asing masih cenderung bertahan di negara maju—selama ekonomi AS menghindari resesi dan indeks bursa Wall Street tetap memimpin.
Selain itu, meredupnya daya tarik strategi Japan carry trade berpotensi menahan aliran dana ke emerging market, termasuk Indonesia. Dengan demikian, pergerakan IHSG tahun depan diproyeksikan banyak ditopang oleh pertukaran alokasi antara sektor-sektor domestik.
Yang menjadi sasaran rotasi adalah sektor dengan:
- valuasi lebih rasional setelah terkoreksi,
- dukungan kebijakan domestik,
- dan katalis struktural.
Isfhan tak menyebut sektor spesifik, namun menyiratkan bahwa pasar akan cari ruang baru di luar narasi konglomerasi. Tahun 2026 bisa menjadi ajang seleksi darwinian: siapa yang punya fundamental—bertahan; siapa yang hanya menjual cerita—tersingkir.
Kesimpulan: Tahun Selektif, Bukan Tahun Serba Naik
Saham konglomerasi masih mungkin berkibar di 2026, tetapi tidak lagi menjadi tiket pasti keuntungan. Narasi MSCI tetap penting, namun publik harus menilai:
- kapitalisasi pasar,
- struktur free float,
- kesiapan menghadapi perubahan metodologi indeks,
- dan kekuatan fundamental.
Di tengah pasar yang panas dan rawan bubble, investor perlu sadar bahwa era “beli apa pun yang dekat konglomerasi” hampir selesai. Tahun depan, kualitas akan berbicara lebih keras ketimbang popularitas.

