Inflasi dan AI Bubble Bayangi Pasar, Wall Street Akhiri Pekan di Zona Merah

Cuaninsight – Wall Street menutup perdagangan akhir pekan dengan tekanan signifikan. Indeks S&P 500 dan Nasdaq sama-sama turun lebih dari 1%, seiring investor mulai menjauh dari saham teknologi yang sebelumnya menjadi motor utama reli pasar. Kekhawatiran akan potensi gelembung AI serta sinyal kuat bahwa inflasi AS masih belum jinak menjadi kombinasi yang membuat pelaku pasar memilih sikap lebih defensif.

Tekanan semakin besar setelah pergerakan saham Broadcom dan Oracle memicu kembali keraguan terhadap keberlanjutan profit dari investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan. Di saat yang sama, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury yields) menambah beban pasar saham, terutama saham-saham pertumbuhan.

Inflasi Belum Terkendali, Yield Obligasi Naik

Sentimen negatif pasar semakin menguat setelah sejumlah pejabat Federal Reserve yang menentang keputusan pemangkasan suku bunga pekan ini menyampaikan kekhawatiran bahwa inflasi masih terlalu tinggi untuk memberi ruang pelonggaran kebijakan moneter.

Pernyataan tersebut mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah AS, yang pada gilirannya membuat saham—khususnya saham teknologi—menjadi kurang menarik. Yield yang lebih tinggi berarti biaya modal meningkat, dan valuasi saham berbasis pertumbuhan masa depan ikut tertekan.

BACA JUGA: 10 Saham Perusahaan AI Terbaik 2025: Peluang Cuan dari Teknologi Masa Depan

Bagi investor, kondisi ini menjadi sinyal bahwa arah kebijakan moneter The Fed masih penuh ketidakpastian, sekaligus mengingatkan bahwa era suku bunga rendah belum tentu benar-benar kembali dalam waktu dekat.

Broadcom dan Oracle Picu Ketakutan Gelembung AI

Kekhawatiran soal gelembung AI mencuat tajam setelah saham Broadcom (AVGO) anjlok 11,4%. Produsen chip tersebut memperingatkan bahwa margin keuntungan ke depan berpotensi menipis, memicu pertanyaan besar: apakah belanja masif untuk AI benar-benar akan menghasilkan profit setimpal?

Tekanan semakin terasa ketika Oracle (ORCL) kembali melemah 4,5%, melanjutkan penurunan hampir 11% pada sesi sebelumnya. Penurunan ini terjadi usai Oracle merilis proyeksi keuangan yang mengecewakan. Bahkan klarifikasi Oracle yang membantah laporan soal penundaan pusat data untuk OpenAI tidak mampu meredakan kekhawatiran investor.

Dua saham ini menjadi simbol keresahan pasar terhadap narasi AI yang selama ini dianggap “tak terkalahkan”.

Investor Beralih ke Sektor Defensif

Menurut Anthony Saglimbene, Chief Market Strategist Ameriprise, aksi jual ini sebenarnya tidak mengejutkan. Setelah mencatat rekor penutupan tertinggi pada sesi sebelumnya, pasar memang rentan terhadap aksi ambil untung.

“Setelah reli yang solid dalam beberapa minggu terakhir, ditambah adanya gangguan pada tema AI, investor kini mulai melirik sektor yang lebih defensif,” ujar Saglimbene.

Saham consumer staples justru mencatat kenaikan, menjadi salah satu sektor yang menguat di tengah tekanan pasar. Ini menandakan adanya rotasi sektor, dari saham berisiko tinggi ke aset yang dianggap lebih stabil saat ketidakpastian meningkat.

Data Ekonomi Jadi Penentu Arah Berikutnya

Kehati-hatian investor juga dipicu oleh sederet data ekonomi penting yang akan dirilis pekan depan, mulai dari laporan nonfarm payrolls, inflasi konsumen, hingga data penjualan ritel. Data-data ini diperkirakan akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai kesehatan ekonomi AS, terutama setelah jeda rilis data akibat penutupan pemerintah pada Oktober lalu.

“Pasar cenderung bersikap wait and see menjelang rilis angka-angka besar ini,” tambah Saglimbene.

Performa Indeks: Teknologi Tertekan

Pada penutupan perdagangan:

  • Nasdaq Composite turun 1,69%
  • S&P 500 melemah 1,07%
  • Dow Jones turun 0,51%, meski masih mencatat kenaikan mingguan

Untuk kinerja mingguan, Nasdaq mencatat penurunan terdalam, menegaskan bahwa tekanan terbesar memang datang dari saham teknologi.

Sektor semikonduktor menjadi korban paling nyata. Philadelphia Semiconductor Index anjlok 5,1%, mencatatkan sesi terburuk sejak Oktober. Selain Broadcom dan Nvidia yang turun 3,3%, saham-saham lain seperti SanDisk, CoreWeave, hingga Oklo juga mengalami koreksi tajam.

Gambaran Pasar: Risiko Sedang Diwaspadai

Secara keseluruhan, jumlah saham yang turun jauh melampaui saham yang naik, baik di NYSE maupun Nasdaq. Volume perdagangan juga meningkat, menandakan tingginya aktivitas jual di tengah perubahan sentimen.

Meski masih ada saham individual yang mencatat kinerja positif—seperti Lululemon yang melonjak setelah menaikkan proyeksi laba—narasi utama pasar saat ini tetap didominasi oleh kekhawatiran valuasi AI dan inflasi.

Kesimpulan untuk Investor

Pergerakan Wall Street kali ini menjadi pengingat bahwa tema AI bukan tanpa risiko. Ketika ekspektasi terlalu tinggi dan suku bunga masih menekan, pasar akan cepat bereaksi terhadap tanda-tanda pelemahan fundamental. Bagi investor, fase ini bisa menjadi momen evaluasi portofolio—menyeimbangkan antara potensi pertumbuhan dan perlindungan terhadap volatilitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *