Industri Baja Nasional Tertekan, Pabrik Jepang Hengkang dari RI

Cuaninsight – Industri baja nasional kembali menghadapi tekanan berat. Kali ini, kabar kurang sedap datang dari sektor manufaktur baja, setelah perusahaan patungan Jepang–Indonesia, PT Krakatau Osaka Steel, dipastikan menghentikan operasionalnya di Tanah Air pada April 2026.

Kabar tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), Akbar Djohan, dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta. Penutupan ini menambah daftar panjang industri baja yang tak mampu bertahan di tengah gempuran produk impor murah, khususnya dari China.

Tak Kuat Bersaing dengan Baja Murah China

Menurut Akbar, salah satu faktor utama penutupan pabrik adalah derasnya arus impor baja murah dari Negeri Tirai Bambu yang membanjiri pasar domestik. Produk-produk impor tersebut menekan harga baja lokal hingga berada di level yang sulit disaingi industri dalam negeri.

“Beberapa bulan terakhir, satu joint venture Krakatau Steel akan menutup operasi pada April. Namanya PT Krakatau Osaka Steel,” ungkap Akbar.

Fenomena ini bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, pabrik baja PT Ispat Indo di Surabaya, yang merupakan bagian dari Mittal Steel Group, juga menghentikan operasi pada Oktober lalu. Kedua perusahaan tersebut memiliki lini produksi serupa, yakni baja panjang atau long product seperti besi ulir, besi polos, siku, dan channel.

Produk Lokal Terjepit di Pasar Sendiri

Akbar menegaskan bahwa baja profil produksi dalam negeri kini sulit bersaing karena harga impor yang jauh lebih murah. Padahal, dalam waktu dekat Indonesia akan menjalankan berbagai proyek strategis nasional, mulai dari program 3 juta rumah, Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga Koperasi Merah Putih, yang sejatinya bisa menyerap produk baja lokal.

Namun realitanya, industri nasional justru terpinggirkan di pasar sendiri. Serbuan baja murah membuat utilisasi pabrik baja dalam negeri merosot tajam, bahkan rata-rata berada di bawah 60 persen.

Isu Relokasi dan Teknologi Tungku Induksi

Lebih lanjut, Akbar juga menyoroti pola baru yang dilakukan perusahaan China. Tidak hanya mengirim produk jadi, sejumlah produsen baja China disebut mulai merelokasi pabrik ke Indonesia dengan menggunakan teknologi induction furnace atau tungku induksi.

Teknologi ini sebelumnya sempat menjadi sorotan karena dikaitkan dengan impor scrap atau besi tua yang diduga tercemar bahan nuklir. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak luas, baik dari sisi kesehatan, lingkungan, maupun persaingan usaha yang tidak sehat.

Impor Baja Sedot Devisa Hingga Rp80 Triliun

Dampak ekonomi dari banjir impor baja juga terbilang signifikan. Akbar menyebut, Indonesia harus merogoh kocek hingga Rp80 triliun per tahun untuk memenuhi kebutuhan baja dari luar negeri. Angka tersebut mencerminkan besarnya potensi devisa yang seharusnya bisa diputar di dalam negeri jika industri nasional mampu bersaing.

“Potensi impor baja Indonesia dari kebutuhan nasional ekuivalen hampir mencapai Rp80 triliun per tahun,” jelasnya.

Kemenperin Akui Penutupan Pabrik

Sementara itu, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza membenarkan kabar penutupan PT Krakatau Osaka Steel. Ia menyebut, keputusan tersebut diambil oleh induk perusahaan Osaka Steel di Jepang karena tekanan keuangan dan ketidakmampuan bersaing di pasar Indonesia.

“Perusahaan mengalami masalah keuangan, sehingga induk usaha memutuskan menghentikan operasional di Indonesia,” ujarnya.

Tantangan Serius Industri Baja Nasional

Penutupan pabrik baja Jepang ini menjadi sinyal peringatan bagi industri manufaktur nasional. Tanpa kebijakan proteksi yang kuat, pengawasan impor yang ketat, serta dukungan terhadap produk lokal, industri strategis seperti baja berisiko terus tergerus.

Di tengah ambisi pembangunan nasional dan proyek infrastruktur besar-besaran, keberlangsungan industri baja dalam negeri menjadi kunci agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *