Harga Tembaga Dunia Mendekati Rekor Tertinggi, Didukung China dan Boom AI
Cuaninsight – Harga tembaga global kembali menjadi sorotan pasar komoditas. Pada awal pekan ini, harga logam industri tersebut bergerak mendekati level tertinggi sepanjang sejarah, didorong oleh kombinasi sentimen positif dari China serta lonjakan kebutuhan logam untuk mendukung perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur digital global.
Mengutip laporan Reuters, harga tembaga acuan di London Metal Exchange (LME) pada Senin (12/1/2026) naik 1,6% ke level US$ 13.205 per ton. Sepanjang pekan sebelumnya, harga sempat menyentuh rekor tertinggi di US$ 13.387,50 per ton, atau melonjak lebih dari 50% dibandingkan posisi awal tahun lalu.
Kenaikan tajam ini menandai fase baru dalam siklus superkomoditas, di mana tembaga semakin dipandang sebagai “logam masa depan” yang vital bagi transformasi ekonomi global.
Optimisme Pemulihan China Angkat Sentimen Pasar
Salah satu faktor utama penguatan harga tembaga adalah meningkatnya optimisme terhadap pemulihan ekonomi China. Pemerintah Beijing dikabarkan tengah menyiapkan paket kebijakan fiskal baru untuk mendorong pertumbuhan, terutama di sektor properti, manufaktur, dan infrastruktur.
Sebagai konsumen tembaga terbesar di dunia, setiap sinyal penguatan ekonomi China langsung berdampak signifikan terhadap pasar global.
Pelaku pasar menilai stimulus fiskal ini berpotensi mengerek permintaan tembaga untuk proyek konstruksi, jaringan listrik, hingga produksi barang elektronik. Hal tersebut membuat investor kembali agresif masuk ke pasar logam industri, termasuk tembaga, aluminium, dan seng.

Data Center dan AI Jadi Sumber Permintaan Baru
Selain China, struktur permintaan tembaga dunia juga mengalami perubahan besar. Lonjakan investasi pada data center, jaringan komputasi awan, dan infrastruktur AI menciptakan sumber permintaan baru yang sangat besar.
Analis ING dalam riset terbarunya menyebutkan bahwa tembaga kini memainkan peran strategis dalam:
- pembangunan jaringan listrik modern,
- pengembangan energi terbarukan,
- infrastruktur kendaraan listrik, serta
- fasilitas data center berskala besar.
“Peran tembaga semakin krusial dalam ekspansi jaringan listrik, energi terbarukan, dan infrastruktur kendaraan listrik,” tulis analis ING.
Mereka juga menambahkan bahwa pusat data dan proyek AI menyerap tembaga serta aluminium dalam jumlah signifikan, mulai dari sistem pendingin, kabel daya, hingga perangkat keras server.
Ancaman Kekurangan Pasokan Jangka Menengah
Di sisi suplai, prospek tidak kalah mengkhawatirkan. Analis UBS memperkirakan pertumbuhan produksi tambang tembaga akan tetap terbatas dalam dua tahun ke depan.
Minimnya persetujuan proyek tambang baru, gangguan operasional di sejumlah negara produsen, serta penurunan kadar bijih menjadi faktor utama yang menekan pasokan.
“Kami memperkirakan pertumbuhan produksi tambang tembaga sangat rendah pada 2025 dan masih terbatas pada 2026,” ujar analis UBS.
Kondisi ini memperkuat kekhawatiran pasar akan potensi defisit pasokan struktural, terutama jika permintaan dari sektor energi hijau dan teknologi terus meningkat agresif.
Pelemahan Dolar AS Tambah Dorongan Harga
Faktor eksternal lain yang ikut menopang reli harga logam adalah pelemahan dolar Amerika Serikat. Dolar yang lebih lemah membuat harga komoditas berbasis dolar menjadi relatif lebih murah bagi pembeli dari negara lain, sehingga meningkatkan permintaan global.
Kombinasi permintaan yang kuat dan suplai yang ketat menciptakan fondasi harga tinggi yang sulit ditembus ke bawah dalam jangka pendek.
Logam Industri Lain Ikut Menguat
Tak hanya tembaga, sejumlah logam industri lain juga mencatatkan kenaikan signifikan:
- Aluminium naik 0,9% ke US$ 3.165 per ton
- Seng menguat 0,7% ke US$ 3.176 per ton
- Timbal naik tipis 0,1% menjadi US$ 2.052 per ton
- Nikel melonjak 2,2% ke US$ 18.090 per ton
- Timah melesat 5,3% ke US$ 47.975 per ton
Harga timah bahkan sempat menyentuh US$ 48.500 per ton, mendekati rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 51.000 per ton yang tercatat pada Maret 2022.
Lonjakan timah dipicu oleh kekhawatiran pasokan global, menyusul isu pengetatan pemerintah Indonesia terhadap aktivitas penambangan ilegal.
Prospek Harga Tembaga ke Depan
Dengan permintaan dari China, sektor AI, kendaraan listrik, dan energi terbarukan yang terus meningkat, serta produksi tambang yang relatif stagnan, banyak analis memperkirakan harga tembaga akan tetap berada di level tinggi dalam beberapa tahun mendatang.
Bagi investor, kondisi ini membuka peluang besar di sektor komoditas, saham pertambangan, hingga instrumen berbasis logam industri. Namun, volatilitas tetap perlu diwaspadai, terutama jika terjadi perubahan kebijakan ekonomi global atau perlambatan mendadak di China.

