Harga Minyak Sawit Bergejolak di Penghujung 2025, Dampak La Nina dan Banjir
Cuaninsight – Harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) kembali menunjukkan pergerakan agresif menjelang tutup tahun 2025. Dalam dua hari terakhir perdagangan, harga CPO mencatatkan kenaikan beruntun dan mencapai level tertinggi hampir dua pekan terakhir. Kondisi cuaca ekstrem di kawasan Asia Tenggara menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan harga komoditas unggulan ini.
Pada perdagangan Selasa (23/12/2025), harga kontrak CPO pengiriman Maret 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup menguat ke level MYR 4.036 per ton, naik 1,23% dibandingkan hari sebelumnya. Capaian ini sekaligus menandai level tertinggi sejak 11 Desember 2025.
Secara kumulatif, dalam dua hari perdagangan terakhir, harga CPO telah melonjak 3,34%, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap pasokan global minyak sawit.
Ancaman Banjir Tekan Produksi Sawit Asia Tenggara
Kenaikan harga CPO tidak lepas dari ekspektasi penurunan pasokan, terutama dari dua negara produsen utama dunia, yakni Indonesia dan Malaysia. Sejumlah wilayah sentra perkebunan sawit dilaporkan mengalami banjir, yang berpotensi mengganggu proses panen, produksi, hingga distribusi CPO.
Banjir yang melanda area perkebunan berdampak langsung pada produktivitas tanaman sawit. Akses logistik yang terhambat turut memperbesar risiko keterlambatan pengiriman ke pasar ekspor, sehingga pasokan di pasar global menjadi lebih ketat.
Fenomena La Nina Perparah Risiko Pasokan
Di balik cuaca ekstrem tersebut, terdapat indikasi kuat bahwa fenomena La Nina kembali aktif. Menurut perhitungan perusahaan asuransi global Aon, La Nina diperkirakan menyebabkan kerugian ekonomi global senilai US$ 258–329 miliar.
CEO Climate Analytics, Bill Hare, menegaskan bahwa La Nina membawa curah hujan di atas normal di kawasan Asia Tenggara. Dampaknya bukan hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengancam keselamatan warga serta aktivitas ekonomi utama seperti perkebunan dan pertanian.
Senada, Kang Wei Chaeang, broker dari StoneX Group Inc, menyebut bahwa tingginya curah hujan berpotensi menekan produksi CPO dalam jangka pendek hingga menengah, khususnya di wilayah produsen utama.
Analisis Teknikal: Waspada Koreksi Jangka Pendek
Meski secara fundamental harga CPO mendapat dukungan dari isu pasokan, pergerakan teknikal menunjukkan sinyal yang lebih hati-hati.
Pada time frame harian, indikator Relative Strength Index (RSI) berada di level 43, yang menandakan bahwa CPO masih berada di zona bearish karena berada di bawah ambang batas 50.
Namun, indikator Stochastic RSI tercatat di level 76, yang menunjukkan area beli (long) kuat dan mendekati kondisi jenuh beli (overbought). Kondisi ini membuka peluang terjadinya koreksi teknikal dalam waktu dekat.
Level Support dan Resisten yang Perlu Dicermati
Untuk perdagangan Rabu (24/12/2025), harga CPO berpotensi mengalami tekanan jual, terutama setelah reli lebih dari 3% dalam dua hari. Investor jangka pendek cenderung mengambil keuntungan di level harga tinggi.
Support terdekat berada di level MYR 3.966 per ton, yang merupakan Moving Average (MA) 5. Jika level ini ditembus, harga berpotensi turun lebih lanjut menuju MYR 3.927 per ton.
Sebaliknya, jika sentimen positif masih berlanjut, harga CPO berpeluang menguji area resisten MYR 4.066 per ton. Bahkan, dalam skenario bullish lanjutan, area resisten berikutnya berada di kisaran MYR 4.230–4.274 per ton.
Penutup: Volatilitas Masih Membayangi Pasar CPO
Menjelang pergantian tahun 2025, pasar CPO diperkirakan tetap berada dalam kondisi volatil. Faktor cuaca ekstrem, risiko gangguan pasokan, serta sentimen teknikal akan terus memengaruhi pergerakan harga.
Bagi pelaku pasar dan investor, kewaspadaan menjadi kunci, terutama dalam menghadapi kombinasi faktor fundamental dan teknikal yang saling bertolak belakang.

