China Perketat Ekspor Perak, Picu Lonjakan Harga dan Ketegangan Dagang

Cuaninsight – Pemerintah China resmi memperketat kontrol ekspor perak mulai Kamis (1/1/2026). Kebijakan ini menandai perubahan besar dalam status perak, dari sekadar komoditas industri menjadi material strategis yang berada di bawah pengawasan ketat negara.

Langkah tersebut memperluas daftar logam yang dianggap krusial bagi kepentingan industri dan pertahanan global, khususnya bagi Amerika Serikat (AS). Dengan keputusan ini, perak kini berada dalam level regulasi yang setara dengan logam tanah jarang (rare earths), komoditas yang selama ini menjadi kartu truf Beijing dalam peta geopolitik global.

Reaksi Dunia Usaha: Elon Musk Angkat Suara

Kebijakan China ini langsung memicu respons keras dari kalangan pelaku industri global. Salah satu yang paling vokal adalah Elon Musk, CEO Tesla dan SpaceX. Melalui akun media sosial X, Musk menyampaikan kekhawatirannya terhadap dampak pembatasan tersebut.

“Ini tidak baik. Perak sangat dibutuhkan dalam banyak proses industri,” tulis Musk.

Pernyataan ini mencerminkan keresahan dunia manufaktur, mengingat perak digunakan secara luas dalam produksi kendaraan listrik, panel surya, semikonduktor, hingga sistem pertahanan canggih.

Perak Naik Kelas Jadi Material Strategis

Meski pengumuman rencana kontrol ekspor sudah disampaikan oleh Kementerian Perdagangan China sejak Oktober 2025, kebijakan yang efektif per awal 2026 ini secara resmi menaikkan status perak dalam sistem regulasi ekspor.

Tak hanya perak, aturan baru ini juga mencakup tungsten dan antimoni, dua material penting lain yang pasokan globalnya sangat bergantung pada China. Ketiganya banyak digunakan dalam industri teknologi tinggi, mulai dari elektronik presisi hingga persenjataan modern.

Dengan dominasi China dalam rantai pasok logam-logam ini, kebijakan tersebut memperkuat posisi Beijing dalam dinamika perdagangan global yang kian sensitif.

Dimensi Geopolitik dan Hubungan Dagang AS–China

Pengetatan ekspor ini tidak bisa dilepaskan dari hubungan dagang antara China dan Amerika Serikat. Saat pengumuman awal Oktober lalu, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sempat menyepakati gencatan senjata tarif selama satu tahun.

BACA JUGA: Dari Hobi Jadi Aset, Panduan Investasi Perak untuk Pemula

Namun, kesepakatan tersebut tidak serta-merta menghentikan langkah China dalam memperketat pengawasan logam strategis. Hal ini mengindikasikan bahwa Beijing tetap berhati-hati dalam menjaga keunggulan pasokannya, terutama di tengah persaingan teknologi dan militer global.

Harga Perak Melejit, Pasar Bereaksi Keras

Kebijakan ini hadir di saat yang sangat sensitif bagi pasar. Sepanjang tahun 2025, harga perak melonjak lebih dari dua kali lipat, mencatatkan performa tahunan terbaik sejak 1979.

Awal pekan ini, harga perak sempat menembus US$ 80 per ounce sebelum terkoreksi ke kisaran US$ 73. Kenaikan ini terjadi beriringan dengan pelemahan signifikan Dollar AS.

Indeks Dollar AS (DXY) tercatat anjlok hampir 9,5% sepanjang 2025, menjadi kinerja terburuk sejak 2017. Analis menilai reli emas dan perak mencerminkan pergeseran kepercayaan investor global.

“Lonjakan harga ini adalah peringatan keras bagi ekonomi AS,” ujar Profesor Ekonomi George Mason University, Tyler Cowen.

Pasar Fisik Mulai Berebut Pasokan

Dampak pembatasan ekspor China kini mulai terasa di pasar fisik. David Stein, CEO Kuya Silver asal Kanada, mengungkapkan bahwa perusahaan China dan pembeli dari India mulai bersaing ketat mendapatkan pasokan perak.

Beberapa pembeli bahkan bersedia membayar premi US$ 8–10 per ounce di atas harga pasar demi mengamankan stok.

Data perdagangan menunjukkan betapa dominannya China. Dalam 11 bulan pertama 2025, China mengekspor lebih dari 4.600 ton perak, jauh melampaui impornya yang hanya sekitar 220 ton. Fakta ini mempertegas betapa strategisnya keputusan Beijing dalam mengatur arus logam mulia tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *