CBRE Bidik Dana Rp1,9 Triliun Lewat Rights Issue, Siapkan Transformasi Bisnis Energi
Cuaninsight – Aksi korporasi di pasar modal kembali menjadi sorotan setelah sejumlah emiten mulai melakukan langkah strategis untuk memperkuat struktur permodalan. Salah satunya datang dari perusahaan energi yang tengah menyiapkan pendanaan besar melalui mekanisme rights issue.
PT Cakra Buana Resources Energi Tbk atau CBRE menargetkan perolehan dana segar hingga Rp1,9 triliun melalui Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD I) atau rights issue.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperkuat struktur keuangan sekaligus mendukung transformasi bisnis yang kini mulai merambah sektor layanan offshore untuk industri energi dan pertambangan di tingkat internasional.
Terbitkan 12,76 Miliar Saham Baru
Berdasarkan keterbukaan informasi perusahaan, PT Cakra Buana Resources Energi Tbk berencana menerbitkan maksimal 12,76 miliar saham baru dalam aksi rights issue tersebut.
Harga pelaksanaan saham baru diperkirakan berada di kisaran Rp100 hingga Rp150 per saham. Dengan skema ini, pemegang saham lama yang tercatat pada 2 Juni 2026 berhak memperoleh Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).
Rasionya ditetapkan sebesar 253 HMETD untuk setiap 90 saham lama yang dimiliki investor. Sementara itu, periode perdagangan dan pelaksanaan HMETD dijadwalkan berlangsung pada 4 hingga 10 Juni 2026.
Pemegang Saham Utama Tidak Ambil Hak
Saat ini, struktur kepemilikan saham PT Cakra Buana Resources Energi Tbk masih didominasi oleh PT Omudas Investment Holdco dengan kepemilikan sekitar 61,13 persen.
Di posisi berikutnya terdapat PT Republik Capital Indonesia yang memegang sekitar 11,30 persen saham.
Menariknya, kedua pemegang saham utama tersebut menyatakan tidak akan melaksanakan haknya dalam rights issue ini. Sebagai gantinya, mereka akan mengalihkan sebagian atau seluruh HMETD kepada investor lain yang berminat untuk berpartisipasi dalam aksi korporasi ini.
Langkah tersebut membuka peluang bagi investor baru untuk masuk ke dalam struktur pemegang saham perusahaan.
Investor Strategis Siap Masuk
Rights issue CBRE juga akan diikuti oleh sejumlah investor strategis yang berencana berpartisipasi melalui mekanisme konversi pinjaman menjadi saham.
Beberapa pihak yang disebut akan terlibat antara lain:
Hilong Shipping Holding Limited dengan konversi pinjaman sekitar Rp420 miliar
PT Saga Investama Sedaya sekitar Rp210 miliar
Yafin Tandiono Tan sekitar Rp184,8 miliar
PT Superkrane Mitra Utama Tbk sekitar Rp109,2 miliar
Melalui mekanisme tersebut, sebagian kewajiban perusahaan akan dikonversi menjadi ekuitas. Strategi ini dinilai dapat membantu mengurangi tekanan utang di laporan keuangan sekaligus memperkuat struktur permodalan perusahaan.
Transformasi Bisnis ke Layanan Offshore
Selain memperbaiki struktur keuangan, rights issue ini juga menjadi bagian dari langkah transformasi bisnis PT Cakra Buana Resources Energi Tbk.
Perusahaan kini mulai memperluas bisnisnya ke sektor offshore support services yang mendukung industri energi dan pertambangan di tingkat internasional.
Sejalan dengan ekspansi tersebut, struktur aset perusahaan juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Total aset CBRE kini diperkirakan telah mencapai sekitar Rp2 triliun, didorong oleh penambahan armada kapal serta investasi pada aset operasional lainnya.
Potensi Dilusi Saham
Meski aksi rights issue ini membuka peluang pendanaan besar, langkah tersebut juga berpotensi menimbulkan dilusi kepemilikan saham bagi investor lama yang tidak mengeksekusi HMETD.
Dilusi saham diperkirakan dapat mencapai sekitar 73,76 persen bagi pemegang saham yang tidak berpartisipasi dalam aksi korporasi tersebut.
Namun demikian, perusahaan menegaskan bahwa rights issue ini tidak akan mengubah struktur pengendali perusahaan.
Dengan tambahan modal yang lebih kuat serta ekspansi bisnis yang terus berkembang, CBRE berharap dapat memperkuat posisinya di sektor energi sekaligus membuka peluang pertumbuhan jangka panjang di pasar

