China Siap Pimpin BRICS 2027, Xi Jinping Bawa Agenda Besar untuk Global South

Cuaninsight – China bersiap mengambil tongkat kepemimpinan BRICS pada 2027. Presiden China Xi Jinping menegaskan kesiapan negaranya untuk menjadi ketua organisasi sekaligus menjadi tuan rumah KTT BRICS ke-19.

Pergantian kepemimpinan ini dipandang Beijing sebagai momentum untuk membawa kerja sama BRICS memasuki fase baru yang disebut “Kerja Sama BRICS yang Lebih Besar”. China ingin menggunakan keketuaannya untuk memperkuat konsensus di antara negara anggota sekaligus mendorong agenda pembangunan bagi negara-negara Global South atau Selatan Global.

“China akan mengambil alih keketuaan BRICS tahun depan dan menjadi tuan rumah Pertemuan Ke-19 KTT BRICS,” ujar Xi Jinping, dikutip dari Antara, Minggu (13/9/2026).

Menurut Xi, kepemimpinan China nantinya akan diarahkan untuk membuka babak baru kerja sama BRICS dan memasuki “Dasawarsa Emas” ketiga organisasi tersebut. Fokusnya adalah menciptakan kondisi yang mendukung kemakmuran bersama.

BRICS Memasuki Babak Baru

Tahun 2026 menjadi tahun penting bagi BRICS karena menandai 20 tahun perjalanan kerja sama kelompok tersebut. Xi menyebut BRICS telah berkembang menjadi salah satu wadah kerja sama paling berpengaruh bagi negara-negara berkembang.

Selama dua dekade, menurut Xi, BRICS telah berkontribusi dalam menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari krisis keuangan internasional, pandemi COVID-19, perubahan iklim, hingga persoalan lintas negara lainnya.

Xi menilai posisi negara-negara Global South semakin kuat seiring berkembangnya multipolarisasi dunia. Namun, pada saat yang sama, ia melihat praktik unilateralisme dan politik kekuasaan juga semakin menguat.

Karena itu, BRICS dinilai memiliki posisi strategis untuk mendorong terbentuknya tatanan internasional yang lebih adil dan rasional.

“BRICS kini telah memasuki tahap baru pembangunan berkualitas tinggi dalam kerangka ‘Kerja Sama BRICS yang Lebih Besar’,” kata Xi.

China Dorong Industrialisasi Berbasis AI

Salah satu agenda utama yang dibawa Xi adalah penguatan inovasi dan industrialisasi melalui teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Xi mengusulkan Inisiatif BRICS tentang pemberdayaan industrialisasi baru melalui AI. China menyatakan kesediaannya bekerja sama dengan seluruh anggota untuk meningkatkan penelitian, pengembangan, hingga penerapan teknologi AI.

Tidak berhenti pada riset, Beijing juga ingin memperdalam kolaborasi dalam rantai industri dan rantai pasok.

Agenda ini menunjukkan bahwa teknologi diproyeksikan menjadi salah satu pilar penting BRICS ke depan. AI tidak hanya dipandang sebagai teknologi digital, tetapi juga sebagai instrumen untuk mempercepat industrialisasi dan meningkatkan kapasitas ekonomi negara-negara berkembang.

Jika agenda tersebut diterapkan secara luas, kerja sama BRICS berpotensi bergerak semakin jauh dari sekadar forum diplomasi menuju kolaborasi ekonomi, teknologi, dan industri.

BRICS Diminta Perkuat Perdamaian

Usulan kedua Xi berkaitan dengan perdamaian dan stabilitas global. Ia meminta BRICS mengambil peran lebih besar dalam mendorong penyelesaian konflik secara damai.

Xi menyoroti situasi di kawasan Teluk dan Timur Tengah yang masih berkembang. Menurutnya, konflik telah menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat di kawasan sekaligus bertentangan dengan kepentingan bersama komunitas internasional.

Persoalan Palestina juga disebut sebagai inti masalah Timur Tengah. Xi kembali menekankan solusi dua negara sebagai jalan keluar, dengan tujuan memungkinkan Palestina dan Israel hidup berdampingan secara damai.

Posisi tersebut menempatkan BRICS tidak hanya sebagai kelompok ekonomi negara berkembang, tetapi juga sebagai forum yang berupaya meningkatkan pengaruh Global South dalam isu geopolitik.

Pertukaran Budaya Jadi Agenda BRICS

Agenda berikutnya yang diajukan Xi adalah memperkuat hubungan antarmasyarakat dan pertukaran antarperadaban.

China mendorong penyelenggaraan Forum Pertukaran Antarmasyarakat BRICS serta pertukaran pengalaman dalam tata kelola pemerintahan.

Kerja sama juga akan diperluas ke sektor kebudayaan, pariwisata, pendidikan, dan bidang lainnya. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat hubungan antarnegara BRICS tidak hanya pada level pemerintah, tetapi juga di antara masyarakat.

Dengan semakin luasnya anggota BRICS, pertukaran lintas sektor dinilai dapat menjadi instrumen untuk memperkuat konektivitas sosial dan ekonomi antarnegara.

China Ingin Reformasi Tata Kelola Global

Usulan keempat menyasar reformasi tata kelola global. Xi menyerukan sistem internasional yang lebih adil dan rasional serta menekankan pentingnya menjaga kewibawaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

China juga menyerukan penolakan terhadap tindakan yang keluar dari organisasi internasional, mengingkari kesepakatan, ataupun membangun mekanisme tandingan terhadap institusi yang sudah ada.

Di sektor perdagangan, Xi menegaskan dukungan BRICS terhadap sistem perdagangan multilateral yang berpusat pada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

China mendorong reformasi WTO sekaligus menentang penyalahgunaan tarif dan berbagai bentuk proteksionisme. Agenda ini menjadi relevan di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan dan persaingan ekonomi antarnegara besar.

KTT BRICS ke-18 Digelar di India

KTT BRICS ke-18 berlangsung di Bharat Mandapam, New Delhi, pada 12–13 September 2026 di bawah keketuaan India.

Pertemuan tersebut mengusung tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability”, yang menekankan ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan.

Sejumlah pemimpin negara hadir dalam forum tersebut, termasuk Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Indonesia Prabowo Subianto, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, serta Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed Ali.

Selain itu, hadir Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan dan Perdana Menteri India Narendra Modi sebagai tuan rumah KTT.

Keketuaan China Bisa Perkuat Agenda Global South

Dengan mengambil alih keketuaan BRICS pada 2027, China memiliki kesempatan untuk menentukan prioritas kerja sama kelompok tersebut selama satu periode kepemimpinan.

Agenda yang disampaikan Xi memperlihatkan tiga arah besar: memperkuat kapasitas ekonomi dan teknologi, meningkatkan peran BRICS dalam isu perdamaian, serta mendorong reformasi tata kelola global.

Bagi negara-negara Global South, arah tersebut dapat membuka peluang kerja sama baru di bidang industri, AI, perdagangan, pendidikan, hingga investasi.

Namun, efektivitas agenda China tetap akan bergantung pada kemampuan negara-negara BRICS menyatukan kepentingan yang berbeda. Dengan semakin besarnya kelompok tersebut, tantangannya bukan hanya menentukan agenda, tetapi juga memastikan setiap inisiatif dapat diterjemahkan menjadi kerja sama konkret.

Keketuaan China pada 2027 akhirnya akan menjadi ujian penting bagi BRICS untuk membuktikan apakah “Kerja Sama BRICS yang Lebih Besar” mampu menghasilkan pengaruh ekonomi dan politik yang semakin nyata di tengah perubahan tatanan dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *