Armand Hartono Kembali Nakhodai AEI, Ini Agenda Besarnya hingga 2029
Cuan Insight – Armand Hartono kembali mendapat kepercayaan untuk memimpin Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) sebagai Ketua Umum periode 2026-2029. Penunjukan tersebut menempatkan sosok yang juga dikenal sebagai Wakil Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) itu di posisi strategis untuk membawa kepentingan emiten di tengah perkembangan pasar modal Indonesia.
Armand merupakan putra Budi Hartono, salah satu pemilik Djarum Group. Dengan pengalaman di sektor keuangan dan korporasi, kepemimpinannya di AEI periode mendatang akan diarahkan pada penguatan kapasitas perusahaan terbuka sekaligus peningkatan kualitas tata kelola.
Usai Musyawarah Anggota AEI 2026 di Jakarta, Selasa (11/8/2026), Armand mengatakan asosiasi akan tetap menjadikan kebutuhan anggota sebagai dasar dalam menentukan program kerja selama periode kepengurusan baru.
AEI Fokus Dengarkan Kebutuhan Emiten
Armand menegaskan AEI akan melanjutkan berbagai program yang relevan dengan kebutuhan perusahaan tercatat. Salah satu fokusnya adalah memberikan edukasi kepada anggota mengenai tata kelola perusahaan serta perkembangan regulasi pasar modal.
Langkah tersebut menjadi penting karena emiten menghadapi lingkungan bisnis yang terus berubah. Perusahaan terbuka tidak hanya dituntut menjaga kinerja keuangan, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan ketentuan regulator, ekspektasi investor, dan standar tata kelola yang semakin tinggi.
Dengan pemahaman regulasi yang lebih baik, emiten diharapkan dapat menjalankan kewajiban sebagai perusahaan terbuka secara lebih efektif sekaligus menjaga kepercayaan pemegang saham.

Kolaborasi dengan OJK dan BEI
Untuk menjalankan agenda tersebut, AEI akan memperkuat kolaborasi dengan berbagai institusi dalam ekosistem pasar modal. Kerja sama akan dilakukan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), Self-Regulatory Organizations (SRO), serta pemangku kepentingan lainnya.
Kolaborasi lintas lembaga dinilai penting untuk menciptakan ekosistem pasar modal yang semakin sehat. Bagi emiten, sinergi tersebut dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kapasitas, memperluas wawasan, sekaligus memahami perubahan kebijakan yang berpengaruh terhadap aktivitas perusahaan.
Armand berharap penguatan kapasitas tersebut dapat membantu pasar modal Indonesia semakin kompetitif dan mampu bergerak menuju standar kelas dunia.
Governance Jadi Fondasi ESG
Selain edukasi dan advokasi, agenda penting lain yang disoroti Armand adalah penguatan governance atau tata kelola perusahaan. Menurutnya, tata kelola merupakan fondasi utama sebelum perusahaan memperluas penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG). Governance yang kuat dapat mendukung kualitas manajemen sekaligus menjaga kinerja perusahaan dan kepercayaan investor.
Pandangan tersebut menempatkan tata kelola bukan sekadar kewajiban administratif. Bagi perusahaan terbuka, governance berkaitan erat dengan bagaimana keputusan strategis dibuat, bagaimana risiko dikelola, serta bagaimana perusahaan mempertanggungjawabkan kinerjanya kepada pemegang saham dan pemangku kepentingan.
Setelah fondasi tata kelola dan kinerja perusahaan semakin kuat, perhatian terhadap aspek sosial dan lingkungan dapat dikembangkan secara lebih optimal.
ESG Makin Penting bagi Emiten
Penerapan ESG menjadi salah satu tantangan sekaligus peluang bagi perusahaan terbuka. Investor semakin mempertimbangkan faktor keberlanjutan dalam menilai kualitas perusahaan, selain indikator keuangan konvensional.
Bagi emiten, penerapan ESG secara konsisten berpotensi memperkuat reputasi dan kepercayaan pemangku kepentingan. Namun, penerapannya membutuhkan tata kelola yang solid agar komitmen keberlanjutan tidak berhenti pada laporan atau kampanye perusahaan.
Karena itu, agenda Armand di AEI tidak hanya berkaitan dengan kepentingan emiten secara individual. Penguatan governance dan ESG juga dapat memberikan dampak lebih luas terhadap investor, regulator, SRO, karyawan, serta seluruh ekosistem pasar modal.
Menjaga Kepercayaan Investor
Kepemimpinan Armand Hartono di AEI periode 2026-2029 berlangsung ketika pasar modal Indonesia menghadapi tuntutan transparansi dan tata kelola yang semakin besar. Emiten perlu memastikan bahwa pertumbuhan bisnis berjalan seiring dengan peningkatan kualitas manajemen dan akuntabilitas.
AEI memiliki posisi penting untuk menjadi jembatan antara perusahaan terbuka dengan regulator serta pemangku kepentingan lainnya. Melalui edukasi, advokasi, dan kolaborasi, asosiasi dapat membantu emiten memahami perubahan lingkungan regulasi sekaligus meningkatkan kualitas praktik korporasi.
Dengan fokus tersebut, agenda Armand selama tiga tahun ke depan berpotensi tidak hanya berorientasi pada kepentingan emiten, tetapi juga memperkuat fondasi pasar modal Indonesia secara keseluruhan.
Bagi investor, penguatan governance dan ESG menjadi perkembangan yang layak diperhatikan karena kualitas tata kelola pada akhirnya berhubungan dengan transparansi, manajemen risiko, dan keberlanjutan kinerja perusahaan. Jika agenda tersebut berjalan konsisten, pasar modal Indonesia memiliki peluang untuk semakin dipercaya dan kompetitif di tingkat global.
