Proyek HPAL KNI Siap Produksi Agustus 2026, Perkuat Hilirisasi Nikel Nasional
Cuan Insight– Pengembangan Indonesia Pomalaa Industry Park (IPIP) di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, terus menunjukkan kemajuan. Kawasan industri yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut kini memasuki fase penting menjelang dimulainya produksi fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) yang menjadi salah satu proyek hilirisasi nikel terbesar di Indonesia.
PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI), perusahaan yang mengembangkan fasilitas tersebut, menargetkan lini produksi pertama mulai beroperasi pada Agustus 2026. Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, seluruh fasilitas HPAL ditargetkan beroperasi penuh sebelum akhir tahun.
Proyek bernilai investasi sekitar US$4,5 miliar ini diharapkan menjadi motor penguatan industri baterai kendaraan listrik sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral Indonesia.
Produksi MHP Dimulai Bertahap
Saat ini, pembangunan fasilitas HPAL masih berada pada tahap konstruksi dan penyelesaian proses commissioning untuk sejumlah peralatan utama. Manajemen KNI menyebut progres pembangunan berjalan sesuai jadwal sehingga target produksi perdana pada Agustus tetap realistis.
Secara keseluruhan, fasilitas HPAL akan memiliki lima lini produksi yang dioperasikan secara bertahap hingga mencapai kapasitas penuh pada akhir 2026.
Produk utama yang dihasilkan adalah Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), yakni bahan baku penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik berbasis nikel.
KNI menargetkan kapasitas produksi mencapai 120.000 ton kandungan nikel per tahun, menjadikan fasilitas ini sebagai salah satu proyek HPAL terbesar di dunia.
Didukung Kolaborasi Tiga Perusahaan Global
PT Kolaka Nickel Indonesia merupakan perusahaan patungan yang menggabungkan kekuatan tiga pemain besar di industri pertambangan dan otomotif. Huayou Cobalt dari China berperan sebagai penyedia teknologi sekaligus operator fasilitas pengolahan nikel. Sementara itu, PT Vale Indonesia Tbk memasok bahan baku bijih nikel dengan standar operasional yang telah diterapkan secara global.

Di sisi hilir, Ford Motor Company menjadi mitra strategis yang akan memanfaatkan produk MHP sebagai bagian dari rantai pasok kendaraan listrik. Kolaborasi tersebut membentuk ekosistem terintegrasi, mulai dari penambangan, pengolahan nikel, hingga pemanfaatannya dalam industri otomotif listrik.
Teknologi HPAL Diklaim Lebih Efisien
KNI mengungkapkan bahwa teknologi HPAL yang diterapkan mengusung sistem terbaru dengan efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan fasilitas sejenis.
Proses produksi menggunakan metode hidrometalurgi untuk mengolah bijih nikel jenis limonit dengan bantuan asam sulfat di dalam autoclave bertekanan dan bersuhu tinggi.
Teknologi tersebut memungkinkan pemisahan logam secara lebih optimal sehingga menghasilkan produk MHP dengan kualitas tinggi yang sesuai kebutuhan industri baterai global.
Selain itu, fasilitas ini juga dirancang dengan memperhatikan standar lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (ESG) guna mendukung operasional yang lebih berkelanjutan.
Tahap Awal Produksi Masih Berorientasi Ekspor
Meski menjadi bagian dari agenda hilirisasi nasional, seluruh produksi awal MHP masih akan diekspor ke China. Langkah tersebut dilakukan karena Indonesia saat ini belum memiliki kapasitas industri yang memadai untuk mengolah MHP menjadi material katoda atau komponen baterai kendaraan listrik secara menyeluruh.
Namun, KNI membuka peluang pembangunan fasilitas pengolahan lanjutan di Indonesia pada masa mendatang apabila ekosistem industri baterai domestik semakin berkembang.
Dengan demikian, nilai tambah yang dihasilkan dari hilirisasi nikel diharapkan dapat terus meningkat di dalam negeri.
Didukung Infrastruktur dan Serap Ribuan Tenaga Kerja
Untuk mendukung operasional HPAL, KNI membangun pembangkit listrik sendiri yang menggunakan bahan bakar gas alam cair (LNG). Fasilitas tersebut mampu memenuhi kebutuhan energi sekitar 100 megawatt (MW) sehingga operasional smelter tidak bergantung sepenuhnya pada pasokan listrik eksternal.
Saat proyek beroperasi penuh, kawasan industri ini diperkirakan menyerap sekitar 5.000 tenaga kerja, yang mayoritas merupakan pekerja Indonesia.
Selain fasilitas HPAL, kawasan Indonesia Pomalaa Industry Park juga telah dihuni beberapa tenant industri, termasuk perusahaan yang mengembangkan fasilitas pengolahan berbasis Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF).
Kehadiran berbagai fasilitas tersebut diharapkan menjadikan IPIP sebagai salah satu pusat hilirisasi nikel terbesar di Indonesia sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik.

