Saham BBRI Jadi Primadona Asing, Diborong Rp147 Miliar di Tengah Tekanan IHSG
Cuan Insight– Pergerakan pasar saham Indonesia pada perdagangan Selasa (23/6/2026) menunjukkan fenomena yang menarik. Di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), investor asing justru terlihat aktif mengoleksi sejumlah saham unggulan, terutama saham perbankan.
IHSG ditutup turun 15,35 poin atau melemah 0,25 persen ke level 6.101,33. Tekanan jual yang terjadi di berbagai sektor membuat indeks kembali bergerak di zona merah. Namun di balik sentimen negatif tersebut, terdapat pergeseran arus dana asing yang patut dicermati investor.
Salah satu yang paling mencolok adalah aksi beli investor asing terhadap saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk atau BBRI yang menjadi saham dengan nilai net buy terbesar sepanjang perdagangan.
Asing Masih Catat Net Sell di Pasar Saham
Secara keseluruhan, investor asing masih membukukan aksi jual bersih (net sell) yang cukup besar. Di pasar reguler, nilai net sell tercatat mencapai Rp348,13 miliar. Sementara jika dihitung dari seluruh pasar, nilai jual bersih asing mencapai sekitar Rp311,6 miliar.
Data tersebut menunjukkan bahwa sentimen kehati-hatian masih mendominasi pelaku pasar global terhadap aset berisiko, termasuk saham Indonesia.
Meski demikian, arus dana asing tidak sepenuhnya keluar dari pasar. Sejumlah saham tertentu justru mendapatkan perhatian besar dan menjadi sasaran akumulasi investor institusi asing.
BBRI Jadi Incaran Utama Investor Asing
Di tengah derasnya aksi jual asing, saham BBRI tampil sebagai bintang utama. Investor asing tercatat melakukan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp147,57 miliar pada saham bank pelat merah tersebut. Nilai tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan saham lainnya pada perdagangan hari itu.
Sejalan dengan masuknya dana asing, harga saham BBRI berhasil menguat 1,39 persen dan ditutup di level Rp2.910 per saham.
Kondisi ini menunjukkan bahwa investor asing masih melihat potensi menarik pada saham perbankan nasional, khususnya emiten yang memiliki fundamental kuat dan basis bisnis yang luas seperti BBRI.
Sebagai bank dengan fokus utama pada sektor UMKM, BBRI dinilai memiliki posisi yang strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi domestik, terutama di tengah berbagai program pemerintah yang mendorong pembiayaan usaha dan konsumsi masyarakat.
Daftar Saham yang Paling Banyak Dibeli Asing
Selain BBRI, sejumlah saham berkapitalisasi besar lainnya juga masuk dalam daftar incaran investor asing. Saham BREN mencatat net buy sebesar Rp126,52 miliar. Kemudian disusul oleh TPIA dengan pembelian bersih Rp101,71 miliar.
Beberapa saham lain yang juga mencatatkan net buy signifikan antara lain:
PTRO Rp58,6 miliar
RAJA Rp37,34 miliar
BRPT Rp29,43 miliar
BUVA Rp28,92 miliar
BBNI Rp25,15 miliar
TLKM Rp19,47 miliar
ANTM Rp15,17 miliar
Daftar tersebut memperlihatkan bahwa investor asing masih menaruh perhatian pada sektor perbankan, energi, telekomunikasi, hingga komoditas.
BMRI Jadi Korban Aksi Jual Terbesar
Berbeda dengan BBRI, saham BMRI justru mengalami tekanan jual paling besar dari investor asing. Sepanjang perdagangan, saham BMRI mencatat net sell mencapai Rp386,58 miliar. Besarnya aksi jual tersebut turut menekan harga saham BMRI hingga turun 2,37 persen ke level Rp4.120 per saham.
Selain BMRI, beberapa saham yang juga mengalami net sell signifikan antara lain:
DSSA Rp95,44 miliar
NATO Rp72,85 miliar
BBCA Rp58,99 miliar
ASII Rp55,29 miliar
AADI Rp49,1 miliar
KLBF Rp40,02 miliar
Apa Arti Pergerakan Ini bagi Investor?
Aksi beli asing terhadap BBRI di tengah tekanan pasar dapat menjadi sinyal bahwa investor institusi masih selektif dalam menempatkan dana mereka. Ketika IHSG mengalami koreksi, saham-saham dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi sering kali menjadi pilihan utama untuk akumulasi.
Namun demikian, investor tetap perlu mencermati kondisi makroekonomi, arah suku bunga global, nilai tukar rupiah, serta perkembangan sentimen pasar internasional yang masih berpotensi memengaruhi arus modal asing.
Meski IHSG ditutup melemah, masuknya dana asing ke saham BBRI dan sejumlah saham unggulan lainnya menunjukkan bahwa peluang investasi di pasar modal Indonesia masih tetap menarik bagi investor global. Kondisi ini sekaligus menjadi sinyal bahwa strategi selektif dalam memilih saham berkualitas tetap menjadi kunci menghadapi volatilitas pasar yang tinggi.

