Investor Asing Masuk, Ini 4 Faktor yang Mendorong Rupiah Menguat
Cuaninsight – Nilai tukar rupiah menunjukkan performa yang impresif dalam beberapa hari terakhir. Mata uang Indonesia tercatat menguat sekitar 1,2% dalam lima hari perdagangan terakhir dan menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terbaik di kawasan Asia.
Penguatan tersebut terjadi di tengah perubahan sentimen global yang mulai membaik setelah meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Namun, faktor eksternal bukan satu-satunya alasan di balik kebangkitan rupiah. Berbagai kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dan pemerintah juga memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas mata uang nasional.
Kombinasi kebijakan moneter yang agresif, masuknya dana asing, serta sinyal disiplin fiskal menjadi fondasi utama yang menopang penguatan rupiah dalam beberapa pekan terakhir.
Meredanya Risiko Geopolitik Dorong Minat Investor
Salah satu katalis utama penguatan mata uang di kawasan Asia adalah membaiknya situasi geopolitik global. Kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka jalan bagi normalisasi aktivitas di Selat Hormuz telah menurunkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dunia.
Ketika risiko geopolitik menurun, investor cenderung kembali mencari aset dengan potensi imbal hasil lebih tinggi, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia.
BACA JUGA: AS dan Iran Sepakat Damai, Selat Hormuz Dibuka Jumat Ini, Harga Minyak Turun?
Turunnya premi risiko global juga membantu mengurangi tekanan terhadap mata uang negara-negara Asia yang sebelumnya terdampak oleh ketidakpastian pasar internasional.
Bank Indonesia Agresif Menjaga Stabilitas Rupiah
Di dalam negeri, Bank Indonesia menunjukkan komitmen kuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen kebijakan. Selain melakukan intervensi di pasar valuta asing, pasar obligasi, dan instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), bank sentral juga menaikkan suku bunga acuan secara pre-emptive sebesar total 75 basis poin dalam kurun waktu satu bulan terakhir.
Kenaikan suku bunga tersebut membuat imbal hasil aset keuangan domestik menjadi lebih menarik bagi investor. Dampaknya, arus keluar modal dapat ditekan sekaligus membuka peluang masuknya dana asing ke pasar Indonesia.
Kebijakan ini dinilai efektif dalam memperkuat kepercayaan pelaku pasar terhadap stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global.
SRBI Jadi Magnet Baru Investor Asing
Faktor penting lainnya adalah meningkatnya daya tarik Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Instrumen ini menjadi salah satu pilihan investasi yang banyak diminati karena menawarkan imbal hasil yang kompetitif.
Bank Indonesia tercatat menaikkan imbal hasil SRBI hingga mencapai 7,64%. Tingkat return tersebut memberikan daya tarik tambahan bagi investor yang mencari instrumen berisiko relatif rendah namun tetap memberikan hasil menarik.
BACA JUGA: Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp17.400 per Dolar AS, Siapa Untung, Siapa Rugi?
Peningkatan minat terlihat dari nilai outstanding SRBI yang mencapai hampir Rp980 triliun pada Mei 2026. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Menariknya, investor asing juga memperbesar kepemilikan mereka pada instrumen ini. Dalam waktu sekitar dua bulan, kepemilikan non-residen bertambah puluhan triliun rupiah, menunjukkan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap pasar keuangan Indonesia.
Buyback Saham Perbankan Perkuat Sentimen Pasar
Penguatan rupiah juga mendapat dukungan dari langkah korporasi yang dilakukan sejumlah emiten besar, khususnya bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Program pembelian kembali saham atau buyback yang didukung investor domestik dan lembaga pengelola dana publik membantu menjaga stabilitas pasar saham nasional.
Kebijakan regulator yang memberikan fleksibilitas kepada emiten untuk melakukan buyback tanpa persetujuan RUPS dalam kondisi pasar tertentu turut memperkuat sentimen positif.
Langkah ini memberikan sinyal bahwa berbagai pihak siap menjaga stabilitas pasar modal ketika volatilitas meningkat, sehingga membantu meningkatkan kepercayaan investor.
Sinyal Disiplin Fiskal Mulai Diapresiasi Pasar
Selain faktor moneter, pasar juga mulai merespons positif sinyal yang diberikan pemerintah terkait pengelolaan anggaran negara.
Rencana evaluasi dan penyesuaian anggaran pada sejumlah program prioritas menunjukkan bahwa pemerintah tetap memperhatikan keberlanjutan fiskal di tengah berbagai tantangan ekonomi global.
Pelaku pasar menilai langkah tersebut sebagai indikasi bahwa disiplin fiskal tetap menjadi prioritas. Dalam kondisi ketidakpastian tinggi, kredibilitas fiskal sering kali menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi persepsi investor terhadap suatu negara.
Semakin kuat keyakinan pasar terhadap kemampuan pemerintah menjaga kesehatan fiskal, semakin besar pula peluang stabilitas nilai tukar dapat dipertahankan.
Prospek Rupiah Masih Didukung Faktor Domestik
Ke depan, pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh dinamika global, terutama terkait suku bunga Amerika Serikat, harga komoditas, dan perkembangan geopolitik.
Namun, kondisi saat ini menunjukkan bahwa penguatan rupiah tidak hanya bergantung pada sentimen eksternal. Dukungan dari kebijakan Bank Indonesia, masuknya dana asing melalui instrumen keuangan domestik, serta komitmen pemerintah menjaga disiplin fiskal menjadi fondasi penting yang memperkuat ketahanan rupiah.
Jika faktor-faktor tersebut tetap terjaga, peluang rupiah untuk mempertahankan stabilitas bahkan melanjutkan tren penguatan masih terbuka dalam beberapa waktu ke depan.

